no title

APA yang bisa kita katakan tentang Indonesia hari-hari ini? Sebuah negara yang nyaris terpecah-belah? Atau sebuah negara yang sedang menuju ke sistem yang lebih demokratis dan dengan demikian kita maklumi adanya konflik-konflik yang terjadi sekarang, yang tak lain adalah bagian dari proses itu?

Bagi mereka yang cemas dan khawatir terjadi disintegrasi, merasa perlu mengingatkan kita semua dengan semboyan “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa”. Tetapi, benarkah kita adalah satu bangsa, satu nusa, dan satu bahasa? Apakah semboyan itu sebuah harapan atau deskripsi nyata tentang kita semua?

Kita tahu, ada beribu suku, bahasa, adat, dan kepercayaan, di dalam apa yang hari ini kita sebut sebagai Indonesia. Benar juga bahwa ada kontras-kontras dan kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Inilah yang sekarang oleh sebagian orang dieksploitir dan dengan demikian menjadi alasan yang kuat untuk memisahkan diri. Semboyan “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa”, bagi mereka yang tak puas, hanyalah sebuah harapan, sebuah cita-cita, dan bukan kenyataan sesungguhnya.

Tapi, apa salahnya dengan harapan itu? Apakah cita-cita agar slogan itu benar-benar menjadi kenyataan tidak masuk akal? Toh, kita juga tahu, bangsa-bangsa besar baik di Eropa maupun Amerika Serikat juga bermula dari heterogenitas kultur, bahasa, adat, dan kepercayaan. Apa yang sekarang kita sebut sebagai Inggris, Amerika, Australia, adalah sebuah bangsa yang dibangun dari keanekaragaman fragmen-fragmen kultural.

Argumentasi inilah, bagi mereka yang khawatir terjadinya perpecahan, hendak dipertahankan dan selalu diingatkan. Ketika orang Tuska dan Sisilia bisa hidup bersama, juga orang Wales dan Skotlandia bisa rukun di Inggris (Britania Raya), kenapa pula kita tidak bisa? Sebuah bangsa, tanpa kecuali, pada dasarnya adalah “bangsa blasteran”. Tidak ada lagi sebuah bangsa –apalagi bangsa modern– yang seluruhnya berisi penduduk “asli”. Jika kita bisa menerima ini, sebenarnya persoalan kita sudah selesai.

Namun, sebagai pribadi, apa pula artinya sekarang ini kita hidup sebagai orang Indonesia, atau orang Amerika, ketika “perbatasan” (frontiers) menjadi makin kabur, sebab kita makin terikat, terlibat, dan menyatu dengan bangsa-bangsa lain. Borders(garis batas yang jelas), sampai hari ini memang masih dianggap penting untuk menentukan teritori dan pembuatan peta. Tapi, dalam kenyataan hidup sehari-hari, apa artinnya garis batas itu?

Munculnya konsep Hak Asasi Manusia (HAM) universal, yang kemudian diterima dan diperjuangkan secara internasional adalah salah satu bukti betapa menjadi orang Indonesia tidak ada bedanya dengan menjadi orang Amerika. Berdirinya Uni Eropa adalah contoh lain dari melunaknya garis batas sebuah bangsa. Kita, nampaknya sedang bergerak menjadi “warga kosmopolitan”, di mana tiap individu memiliki kepekaan global dan toleran terhadap perbedaan –kecuali jika kita mau tetap jadi primitif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: