Ketika rindu sedang menggebu…….


Aku tak tahu kenapa hati ini selalu pilu, padahal engkau selalu hadir walau dalam angan ku, dimana tatap mata binar mu? aku mulai tak tahu padahal engkau selalu mengingatku dalam setiap waktu mu, Ibu… hari ini kembali ku adukan rinduku pada mu, bukan aku tak mau bertemu dengan mu,tetapi biarlah waktu ini berlalu hingga sampai waktu ku untuk bersama mu, mengecup kening mu,menebar senyum bahagiaku di atas pembaringan mu yang lusuh itu. Kini aku kembali teringat tetesan air mata mu saat melepas kepergian ku, berat rasanya ku tinggal kan diri mu untuk sekian waktu, mohon maaf jika anak mu tak mampu membalas jasa mu, Allah maha tahu dalam setiap doa-doa ku dalam setiap doa-doa mu. Pelepah rindu ini tak akan pernah gugur hingga ku temui Engkau dalam sujud di tengah malam,ruku di akhir malam dan berdiri di awal siang. bu…. lihat lah matahari itu!!!! aku yakin kau bisa melihatnya disana, seperti aku bisa melihatnya disini. ” Bu….. lihatlah rembulan di tengah malam itu, bukan kah engkau yang selalu bilang bahwa rembulan itu milik kita bersama,nbukan kah engkau yang pernah bilang bahwa itu adalah hadiah terindah bagi siapapun yang bangun di tengah malam dan menatap nya lekat-lekat hingga nampak sang pemberi cahaya yang maha sempurna itu. Bu…. ingatlah kembali ketika setetes air itu kau siram kan di kedua mata ku, saat itu tak ada yang bisa ku lakukan selain menggerutu,…..Bu ingatkah engkau waktu kita jadi buruh tuai padi, kita berburu sehabis sholat isya menuju pesawahan di bibir pantai selatan yang kelabu, aku tahu saat itu engkau terlalu lelah untuk memburu, tapi demi aku,…. engkau berlari menyingsingkan lengan baju untuk satu,dua butir padi yang kita cari.

“bu…,, aku masih ingat waktu PEMILU 1997 di depan KUD Rw.06 cibentang, saat itu aku mulai mengenal rasa malu ketika Engkau berjualan senampan Combro tanpa isi, aku yakin engkau tak puas dengan karya mu itu,tapi karena engkau butuh sepeser uang jajan, engkau rela menjajakannya walau tak satu pun mata meliriknya, aku tahu betapa malu dan hancurnya perasaan mu saat senampan combro yang masih utuh itu tumpah karena kau terlalu lelah, ku lihat mata mu tertunduk dan tergenang air mata di kedua ujung kelopak mata mu, saat itu aku berlari menjauh dari mu, bukan aku malu bersama mu,tapi aku tak tega melihat wajahmu. Bu…. kini baru ku sadari betapa syahdu nya suaramu ketika mengalunkan lagu untuk peraduanku, aku baru sadari betapa lembutnya lambaian tangan mu ketika ku mulai menutup mata mu, Aku baru sadari betapa hangat nya tetesan air mata yang jatuh di kening ku saat kau hantar kecupan dalam lelap ku. ntah lah bu…. aku hanya bisa mengenang mu dalam angan dan doa-doa ku…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: