MeReKa

Mereka terus melangkah menapaki jalan yang sama setiap pagi setiap hari.tak tahu arah tak bertujuan yang terpenting mereka kembali melangkah di hari-hari yang sepi tak berarti.harus kah mereka menghentikan langkah ini untuk memaknai hari yang kian sepi.atau mereka harus melaju tanpa peduli akan kemana mereka sampai dan akan kemana mereka kembali.di sana diantara jalan-jalan yang mereka lalui tak seorang pun yang peduli,semuanya diam tak mengerti hanya tatapan-tatapan kosong membosankan.dalam pelukan embun mereka tertatih memulai pagi yang tak begitu sepi,dimana anak-anak berlarian kegirangan karena matahari mulai menampakkan diri,mereka tak lelah memacu diri walau sekedar mencangkul dan memulung padi,tak ada angin sejuk tak ada angin panas, hanya desiran hangat membelai jiwa yang menggoyangkan bunga-bunga molek dalam dada.mereka tak mengerti akan jeritan ibu-ibu rumah tangga yang takut dengan harga,mereka pun tak mengerti akan keresahan bapak-bapak pencari nafkah yang tengah putar otak menambah penghasilan. Yang mereka tahu adalah kegirangan di pagi hari berbekal sepiring nasi dan sepeser uang jajan walau terkadang mereka merengek di sore hari untuk satu layang-layang yang terbang bersama angin dan awan-awan. Mereka mengerti dengan dunia nya sendiri, mereka tahu dengan apa yang membuat nya bangga dan berharga di hari ini meskipun hanya memenangkan perlombaan lari di pematang yang kering kerontang.tak ada hadiah,tak ada tropy apa lagi sertfikat dan penghargaan. Hanya tertawa lepas yang mereka dapatkan yang membuat mereka tegar melalui hari-hari tanpa beban,cahaya hari mulai redup menguning diantara gunung-gunung yang layu dan awan-awan yang sendu, angin pun menggelitik mesra diantara rumput-rumput yang berduka namun tak ber air mata,hanya lirikan nya yang lelah tak bernyawa.anak-anak mulai diam tak berdaya,semua tertawa tak lagi berharga hanya diam dalam rengkuhan rembulan malam.peraduan mulai berdendang menina bobokan, tak ada teriakkan.mereka mulai menguap kelelahan dengan doa-doa yang di ucapkan berharap bertemu matahari di esok pagi.hanya saja mereka tak yakin dengan harapan itu,yang pasti malam ini mereka akan menghadapi mati yang tak pernah tahu apakah akan hidup kembali untuk melangkah di pagi hari pada jalan yang sama pada jalan yang sepi,penguasa alam mulai meniupkan kesejukan diantara malam-malam yang gelap ketakutan,mereka mulai melayang dalam impian bersama malaikat-malaikat yang turun di sepertiga malam, mereka nampak kedinginan oleh hembusan syetan yang memabukan,hembusan itu kian kuat membekukan ketika Tuhan di lupakan, tak di dengar adzan di kumandangkan,tak terlihat Sholat di dirikan.mata mereka di butakan,telinga mereka di tulikan bahkan seluruh tubuh mereka di lumpuhkan,hanya Tuhan yang menggerakkan ketika matahari sudah menghangatkan dan anak-anak berlarian.pecahan hari mulai berhamburan gegap gempita dalam irama petikan jemari Tuhan……,,

II

Matahari tepat di atas kepala,panasnya pun membakar hingga kerongkongan.setiap orang sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing,para orang tua sibuk dengan pekerjaan mereka di sawah ladang,mencangkul,menyabit,membersihkan lahan,membendung dan membuat saluran-salura air untuk menolong sawah-sawah mereka dari kekeringan,memang hampir 8 bulan ini kampung mereka tak pernah di kunjungi Hujan,sehingga sungai pun hanya cukup untuk MCK karena di hulu nya , di antara hutan-hutan yang dulu rimba kini gundul tak bernyawa,hewan-hewannya di buru,pohon-pohon nya diebang tanpa ampun,bahkan tak ada rumput untuk sekedar makanan kambing mereka di sore hari. sementara anak-anak kampung ini masih duduk gelisah di bangku sekolah yang hampir roboh.maklum entah kapan bangunan SD negeri ini akan memeperoleh dana untuk perbaikan.harapan tinggal harapan ,mereka hanya mampu menunggu hingga waktu yang tak di tentukan,kegelisahan pun nampak dari wajah-wajah lusuh kelelahan.keringat mengucur basah di kening,punggung dan seluruh tubuh mereka,maklum di musim kemarau begini anak-anak memang jarang kebagian air untuk mandi pagi,hingga bau di ruangan itu pun tak karuan.terdengar suara pak guru mengakhiri pelajaran yang disambut dengan teriak kegirangan dari seluruh siswa,bau dan bising pun bercampur aduk di iringi langkah mereka berlarian menuju trik matahari yang menggerahkan.

Seorang anak berlari dengan se utas tali di tangan kanan dan sebuah layang-layang berekor burung merak di satu tangan yang lainnya,meski terik membakar tak mengurungkan niatnya untuk tetap bermain menerbangkan layang-layang kebanggaannya,tak peduli dengan keringat di wajah yang hampir gosong dan menghitam meski masih terlihat gurat-gurat muda yang masih berkobar semangat agar layang-layang segera terbang tinggi ke angkasa seraya menyampaikan pesan kepada matahari agar segera berhenti membakar kami atau sedikit mengurangi terik nya. angin pun berhembus,mungkin kah layang-layang itu berhasil membujuk matahari?terlihat langit yang biru murni itu tertutup awan putih,kemudian menghitam bergulung berlarian,sang anak segera memacu tali layang-layang nya agar segera kembali kepangkuannya,ia takut hujan membuat layang-layang nya mati sebelum sampai ke bumi.Guripazzz ZZZZlllldar dar   buuuuuur ,,terdengar suara petir berkali-kali memekik telinga, sang anak segera merobohkan tubuhnya hingga tiarap memeluk bumi,nampak takut dan panik tergambar di raut wajahnya,ia tak lagi memegang tali,apa lagi memulut layangannya yang kini telah sirna entah kemana, ia segera berlari di kejar butiran hujan yang memburu dan melaju, begitu pun para ibu, para bapak, mereka segera berlari menuju gubuk-gubuk tua,ada pula yang terus bekerja dan tak peduli dengan hujab pertama yang menyejukkan itu, ucapan syukur pun terucap dari ribuan mulut dan hati-hati yang penuh harap,agar hujan ini benar-benar berkah, menyuburkan padi-padi mereka yang hampir putus asa, menumbuhkan biji-biji yang mereka tabur hingga tumbuh menjadi daun,pohon,bunga dan buah. dan suatu saat mereka bisa tersenyum lepas dengan hasil panen yang mellimpah,hingga sore hari hujan tak juga reda,nampaknya mau berlama-lama melepas kerinduan bersama awan,angin,bumi,gunung-gunung dan sungai-sungai yang haus kekeringan,sayup-sayup suara adzan diantara deburan air bah dan derasnya butiran hujan yang menimpa atap-atap lapuk,suaranya merdu bak dawai yang dimainkan sang musikal profesional,bukan suaranya yang bagus,tapi karena rasa cinta lah yang membuatnya indah dan merdu.beberapa menit berlalu,suara itu pun menghilang,udara malam semakin dingin dengan angin yang bertiup kencang,lampu-lampu tempel bergoyang kanan-kiri hingga akhirnya mati tertiup angin dari sela jendela.seorang bayi menjerit ketakutan padahal sang ibu tengah memeluknya mesra,meski udara malam begitu dingin tapi sang ibu tetap terjaga hanya karena sang bayi tengah demam akibat pergantian cuaca.terlihat sang ayah tengah di buai mimpi hingga suara-suara nya menggelegar bersahutan dengan pekikan petir di atas langit.

III

Malam masih gelap berselimut awan hitam,embun-embun belum sempurna turun bahkan sebagian hamba belum selesai melewati sujud-sujud nya yang panjang berharap Ampunan yang berlimpah di sepertiga malam,namun ada pula yang angkuh dengan kenikmatan dunia yang ia rasakan,sejuk nya malam membuat mereka betah di peraduan dibelai kantuk yang tak karuan.memang tarikan nafas tak membuat mereka sadar akan kasih sayang pemberinya.bahkan tak mau membuka mata ketika Adzan Subuh di kumandangkan.banguuuun teriak seorang ibu dengan seember air di siramkan di atas mata yang berat penuh kerikil kemalasan,tanpa menunggu lama semua sudah bangun ketakutan,dengan mata yang membelalak,nampak nya mau marah” namun karena memang merasa bersalah,ia segera berlalu sambil cemberut kesal,air yang sejuk itu membasuh wajah-wajah yang resah penuh gelisah,akan kah hari ini mendapat beberapa butir beras untuk sarapan anak kamu pagi ini???

2 Tanggapan to “MeReKa”

  1. faisalbarus Says:

    heii…. bagus juga tulisannya…
    he he ….

  2. Asw..
    kang, saya liat gambar k’koko meni manja.. bergelayut ria
    he he lucuu juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: