Aki Lomri

Senja temaram di cakrawala seperti jutaan pelita di angkasa, udara menanjak gersang di musim kemarau yang panjang, angin panas membakar tetumbuhan hutan dan padang ilalang bergoyang dedaunan terbang. Gelegar melengking menjerit baling-baling di kejauhan di atas bukit gundul tak berakar suaranya membelah kesunyian memekikan, layang-layang berterbangan naik turun di tarik tali plastik anak kampung berlarian, matanya merah meredup, wajah hitam mengkilap kecoklatan terpanggang matahari di siang hari,ingus kering menutupi hampir separuh lubang hidung yang sesak untuk bernafas.seorang anak duduk setengah jongkok di atas batang pohon kelapa di atas kali kering kerontang di antara sawah-sawah yang rengkah membatu, ia menatap tajam ke angkasa mengincar layang-layang yang berlarian, kedua bola matanya seakan tak diam mengikuti langkah yang ia pandang,sesekali ia terbangun dan berteriak bertepuk tangan dan berkata,,,,,yahhhh….,,.lalu ia memutar pandangan melirik layang-layang berekor burung merak, matanya seakan hendak menerkam tangan dan kakinya pun siap menangkap. Di lain arah seorang kakek berdiri memasak bumi kakinya kaku tak melangkah, ia tak mau keluar dari terpaan angin gerah yang melaju menuju lapangan bergelombang menerpa rumput ilalang, hutan-hutan dan daun-daun kuning, kecoklatan dan hitam berguguran.nampaknya si kakek mencari sesuatu, terlihat ia membungkukan badannya seraya menaruh tangan kanan di atas alis untuk mempertajam penglihatan,entah apa yang ia cari. Sarung lecek mengikat pinggangnya lalu ia memutar badan dan kembali membungkuk menambah jarak pandang.”itu aki Lomri” kata seseorang di sampingku,yang mengalir darahnya di urat nadi ku,yang menjalar air susu nya di tulang rusuk ku,yang bekerja siang malam tak kenal lelah untuk hidup ku,yang tak pernah menghitung jasa dan tak pernah berharap imbalan dari semua pengorbanannya, yang menagis bersimpuh di keheningan untuk mendoakan ku,,yah….ia adalah Ibu ku. Aku merasa heran” kenapa aki lomri begitu cepat menua”perubahan nya sangat terlihat, aku masih ingat dulu ketika aku masih mengaji di surau miliknya, di atas empang kebanggaanya, bahkan terngiang di ingatan saat aku di tarik oleh tangannya yang kekar, hingga aku terjatuh ke empang.basah kuyup kedinginan, aku tak berani melawan bahkan hanya untuk menetap wajahnya, sorot matanya membuat kami ciut, ia sangat kuat dan berwibawa.tapi kini ia telah berubah, tak seperti dulu lagi, ia sudah layu dan mengharap tunas baru untuk meneruskan estapet perjuangannya, ia butuh generasi baru untuk melanjutkan kiprahnya memakmurkan surau di kampung ini, yang mengumandangkan adzan lima kali dalam sehari, yang melantunkan Sholawat di pagi dan sore hari, namun sayang sosok ki lamri mungkin tak akan ada yang mampu menggantikan, mungkin tak akan ada lagi Adzan dan sholawat atau yang mengingatkan kepada penduduk kampung untuk segera bangun pada saat azdan awal di pukul setengah empat dini hari.mungkin surau kami akan merana tak bersahabat,karena anak-anak kampung kini tak seperti dulu, tak ada yang mengaji ba`da maghrib dan ba`da shubuh, semuanya kini terbuai oleh kehadiran acara-acara di TV, bahkan gaya dan bahasanya pun layaknya orang-orang metropolis yang kurang modal.aku takut tak ada lagi sosok ki lomri di era baru, ki lomri yang menjadi tetua di kampung kami, tempat kami bertanya tentang berbagai hal, bahkan terkadang ki lomri menjelma menjadi dokter umum kala ada orang kampung yang sakit. Sakit perut,panas dingin, batuk atsma,sakit pinggang,gatal-gatal hingga masalah kewanitaan semuanya berobat ke ki lomri. Tak jarang kami kerepotan harus pindah rumah atau mencari nama baru karena sakit kami akibat salah tempat tinggal atau tak cocok nama.ironos memang, tapi itulah kenyataan yang menjadi kebiasdaan kami orang-orang kampung yang hanya mengenal lesung dan sayur rebung, aku kembali berpikir mengurut kening, siapa kelak yang akan menggantikan sosok aki lomri,,??aku???tak mungkin juga kalau aku, aku masih begini, aku belum berubah seperti perubahan orang-orang kampung yang kian ngota,anak-anak yang dewasa dini, dan orang tua seakan masih muda.ahhh aku masih bingung?????!!!!bagi yang punya solusi, please give me solution!!!”DI CARI ANAK MUDA UNTUK MENGGANTIKAN TETUA KAMI” ,,,mungkin kah kami harus mamasang sepanduk ini ?!!!cerita tentang ki lomri dan perubahan kampung kami belum berakhir ketika aku harus kembali ke perantauan, bahkan aku sama sekali belum menemukan kandidat pengganti ki Lomri, hingga aku menulis tulisan ini masih penuh tanya,,,ini adalah wujud kekhawatiran ku akan kampung tempat kami lahir, tempat aku pertama kali menangis,tempat aku di besarkan, tempat aku bermain petak umpet, tempat kami bermain layang-layang, tempat kami memamerkan baju baru di hari lebaran, dan tempat kami kembali dari segala perantauan, akan kah hari yang cerah terus menyapa kampung kami,akankah hujan yang deras menyuburkan datang ke kampung kami,akan kah malam-mlam yang gelap tetap menyelimuti kampung kami,,,,?dan akan kah ada pengganti sosok ki Lomri untuk menyejukkan hati kami dan orang-orang kampung yang termenung bingung tak berujung……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: