wening asih

 

 

Bermata kah mereka?

 

 Suatu malam sepulang sholat isya dari masjid tak jauh dari rumah, saya berjalan agak tergesa, tangan kanan memegang payung yang oleng kanan-kiri diterpa hujan angin yang cukup deras, sementara tangan kiri memegang lipatan sarung yang diangkat hingga lutut.tiba di depan pintu pagar langkah ini terhenti melihat dua sosok anak muda berusia sekitar 13-14 tahun tengah mendorong gerobak yang berisi tumpukan barang bekas, sesekali ia hampiri tempat sampah entah apa yang mereka cari. Basah kuyup tak dihiraukannya mereka terus berjalan menyusuri tiap sudut komplek dan menghampiri setiap tempat sampah, miris rasanya hati ini, di saat semua orang berlindung di kehengatan rumah, kamar tidur,atau di depan televisi, ternyata masih ada orang lain yang terpaksa menerobos dinginnya malam demi menyambung hidup di hari esok, itu adalah salah satu atau sebagian kecil ketimpangan yang hadir di negeri ini, berderet media membritakan berbagai kasus kemiskinan, gizi buruk,bunuh diri dengan alasan kekurangan hingga yang mati lemas kelaparan terus mendera bangsa yang konon katanya negri agraris maritim yang subur dengan gunung dan kaya dengan alam.siapakah yang bertanggung jawab atas semua ini ? cukupkah kita hanya dengan memejamkan mata seraya memanjatkan kunut najilah untuk mereka, atau segera memalingkan muka karena itu bukan tanggung jawab kita.atau kita harus kembali menyalahkan para pejabat tinggi Negara yang rakus akan kekuasaan, yang akan memberi kepedulian ketika pemilihan di kampanyeukan, para petinggi negeri yang haus akan kedudukan, rakus akan mata uang, atau mahluk aneh yang hidup di istana dengan segala kemegahannya  tetapi berparuh elang,cakar harimau,gigi srigala,dan pakaian ular berbisa yang senantiasa membahayakan. Mereka yang tertidur nyenyak sementara masih banyak rakyat yang terlantar di jalanan, bertumpuk di pengungsian atau berdesakkan di bawah jembatan, mereka yang duduk manis di kursi kepemimpinan tetapi lupa akan rakyat yang menjerit kelaparan dan terisak karena ketidak adilan.bermata kah mereka? Bertelinga kah mereka?

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku terjebak dalam angan………..

 

Inilah aku yang selalu mengadu akan kehidupan,menyesali berlalunya kemarin,mengutuki cepatnya waktu di hari ini,dan menunggu dengan cemas akan datangnya hari esok.entah apa yang di pikirkan, sudah lelah rasanya diri ini terjebak dalam penjara lamuan. Kalaulah,seandainya, suatu saat nanti dan sederet kata pengandaian selalu bergemuruh dalam dada meski dalam kesunyian malam, menjadi teman dalam kesendirian. Tempat mana yang ku singgahi di situlah ku mulai perjalanan dalam angan dan lamunan, entah itu bercita-cita atau hanya bermimpi, yang pasti ada sebongkah harapan terpendan dalam jiwa yang suatu saat akan menjadi kenyataan meski tak jarang apa yang dipikirkan itu jauh dari kenyataan. Terkadang aku tersadar bahwa baru saja aku tenggelam dalam telaga yang tak mungkin dapat dikeringkan hanya dengan melubangi seujung rambut. Benar…. Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa melihat ke bawah agar selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki. Tetapi terkadang perlu juga melihat yang diatas agar termotivasi untuk berjuang dan menyempurnakan usaha, bukan merasa lebih kecil dan rendah diri.

Dari hari ke hari perjalanan lamunan selalu memenjarakan jiwa yang rapuh penuh Tanya,terbelenggu tirai baja yang membentengi antara harapan dan kenyataan.ingin rasanya melepaskan diri laksana burung yang keluar dari sangkar lalu terbang bebas mengepakkan sayapnya seraya menghirup udara dengan bebasnya.Gunung dapat ia daki,pohon-pohon dapat ia singgahi begitupun bentangan alam yang indah dapat leluasa ia nikmati malam ataupun siang meski terkadang harus cerdik berlari menyelamatkan diri dari incaran sang pemburu yang tak berhati.atau seperti seekor kepompong yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu yang cantik berterbangan kian kemari menambah keindahan taman yang merekah dengan bunga-bunga. Itulah yang terbersit dalam setiap lamunanku, lamunan yang selalu memenjarakan,lamunan yang tak menghasilkan segunung atau secuilpun dalam kenyataan.padahal ada keyakinan yang bergemuruh di kesunyian,bercahaya di kegelapan serta penyemangat ketika putus asa.mungkin inilaH kenyataan, manusia selalu mengharapkan kesempurnaan dan kebahagiaan karena keduanya merupakan pilihan hidup, sementara sebaliknya, manusia selalu bermuram durja ketika ketidaksempurnaan menghampiri, kesedihan datang silih berganti karena itu bukan pilihan hidup. Bahkan menjadi horror yang mengerikan ketika musibah merampas ketenangan, kesedihan menggantikan kebahagiaan dan kekurangan menukar kecukupan.

Lamuan itu membawa ku pada keadaan yang kaya raya, sukses dalam berbagai hal serta berhasil dalam apapun yang di inginkan,ingat itu hanya lamuan……, lamuan yang tak pernah merubah kenyataan, yang tak menghasilkan apa-apa.kenyataanya aku tetaplah aku tak pernah menjadi siapapun karena sebuah lamunan/. Yang pasti mau tak mau aku harus menerima kenyataan pada keadaan ku sekarang, seraya berupaya mengukir masa depan dengan usaha dan perjuangan.  Lamuanan hanya menyita waktu yang merugikan…….

 

Diteuteup ti hareup sieup, di sawang ti tukang lenjang. asa moal incah balilahan ka tanah sunda teh,duh asa lebar temenan mun teu di jaga di riksa.bisi aya siku siwulu-wulu galagah kancana maung ngamuk gajah meta kuring mah moal mangmang moal bingbang moal rek mundur najan salengkah,rek tuluy maju najan nyawa jadi tarohannana, tapi lain eta nu kudu di pilaku kiwari mah, rek ngabela lemah cai teu kudu korban jiwa tengteng sanjata, urang mumule we ku basa jeung budaya. tong agul ku kuda beureum make ngaku-ngaku kabudayaan barat teh nu urang, lain eta mah nu batur, bari na ge teu sieup mun urang sunda jiga barat, tong eleh ku batur teu weleh nalungtik kaayaan atawa ngeunaan budaya urang, yu urang sasarengan…………..

 

NAON PIJUDULEUN NANA?

ASIH TEH MATRI NA ATI

ASIH TEH MERENAH NA RASA

TEU WELEH AWOR NGAGURUH

LIR ANGIN DI TEPIS WIRING

ASIH TEH HAREPAN NU MANJANG

NU NGALANGKANG NA IMPIAN

NU NGOLEBAT NA LAMUNAN

NU MARENGAN MENGSA NYORANGAN

ASIH TEH NU MAYUNGAN

ASIH TEH NU NGITEUKAN

HAMO INGKAH BALILAHAN

MUN ASIH GEUS MAGEUHAN

 

PEUTING IEU

 

DUH PEUTING NU SEPI JEMPLING

PANG NEPIKEUN HAREWOS KURING

TINA ATI ANU WENING

DUH BENTANG NU BARANANG

TONG WAKA ANGGANG NGAJAUHAN

IEU KURING NGAN SORANGAN

DI BATURAN KU LAMUNAN

DUH BULAN NU NGAHIBARAN

MUN ANJEUN BISA NYAANGAN

CAANGAN HATE KURING

NU MONGKLENG LIR KAANGKEUBAN

 

ANJEUN

 

 

ANJEUN NU JADI HAREPAN

ANJEUN NU NYIMPEN RASA KAHEMAN

ANJEUN NU JADI PIKIRAN

ANJEUN NU DATANG NA PANGIMPIAN

ANJEUN………NU TEU BISA DI INGKARAN

ANJEUN NU PAHEUT DI PENGKOLAN

ANJEUN NU BISA NGUBARAN

ANJEUN NU DI DAGOAN

ANJEUN NU NGALEUNGITKEUN KASEDIHAN

ANJEUN NU NGAJADIKEUN KABAGJAAN

ANJEUN NU TEU WELEH NGALANGKANGAN

ANJEUN NU TEU WELEH NA SAWANGAN

KAMANA ANJEUN KAMANA

ABDI KEUEUNG NGAN SORANGAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wah nampaknya kalimat “aya-aya wae” makin akrab dengan kita neh, kebetulan ada pengalaman dengan kalimat aya-aya wae.o ya tadinya mau pake bahasa sunda tapi ada yang protes “nggak ngartos”, aya-aya wae orang bandung nggak ngartoz bahasa sunda. sok araraneh masa ari bahasa jepang bisa kaya teh erry tuh.tapi teu nanaon lah ladang amal keur urang sunda ngarah langkung soson-soson mihara bahasana..

ceritanya begini; suatu senja di bulan januari awal 2008, saya dapet sms begini “ass. kang hari ini saya ada acara pengajian remaja ba’da maghrib bertempat di Masjid Al-Hadi Jl.H.Alphi RT05 Rw.01 ..marjono” kebetulan saya lagi nggak ada acara, yah serentak saya bergegas untuk memenuhi undangannya,wah wah buru-buru nih waktunya udah ampir pukul 17.30, hiruk pikuk perjalanan sore itu sungguh melelahkan mata dan terus menguji kesabaran seperti biasa perjalanan antara Holis,cibuntu dan caringin lagi macet-macetnya begitupun jalur-jalur lain, meski rada kecewa alhamdulillah Nyampe juga.turun dari angkot tak lagi tengok kiri kanan langsung menuju alamat yang di tuju, ketika sudah sampai di sebuah gang saya bertanya kepada seorang ibu, “Bu, ini betul Rt.05?, iya de… jawabnya, emang mau ke siapa?, si ibu balik tanya. kalo masjid Alhadi sebelah mana ya bu? nggak tau, coba tanya pak Rt aja!katanya. di sebelah ada masjid tapi gak tau masjid apa, katanya lagi. karena udah sore pikir saya lebih baik Sholat aja dulu di masjid ini. dan saya pun segera masuk masjid itu dan ternyata itulah masjid Al-Hadi yang si Ibu nggak tau namanya.,, ingin sekali saya balik lagi ke Ibu yang tadi dan memberi tahu kalo ini adalah Masjid AL-HADI. aya-aya wae…… (garing Nya)

6 Tanggapan to “wening asih”

  1. He..he..aya aya wae nya cep!

  2. aripinkeren Says:

    aya aya wae
    jadi inget ka JK, nu di Republik Mimpi tea……
    Ko, mampir ka web abi ya! kasih komentar

  3. iya insya Alloh tapi untuk sementara waktu tahan dulu ya ….saya lagi pokus ke edit tampilan blog pribados dulu,,,,,makasih udah mampir disini

  4. Asw…
    Alhmdlh… kerumah ga salah jalan..

  5. Assalamu’alaikum WrWb…

    Pkbr mas koko…orang yg satu ini emank aya-aya wae…kaya nya udh makin populer aj nih skr…ampe dah lupa ma teman lamanya….

  6. tos weh urang balakecrakan !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: