Purnama Al@m

Posted in Tak Berkategori on Oktober 31, 2008 by pihatur

“Ketika ku buka mata ini, betapa bahagianya aku.karena cahaya itu masih menyinari ku”

Hari itu Rabu 29 oktober 2008,hujan tak kunjung reda dari selasa sore.padahal hari ini ada beberapa agenda yang harus aku kerjakan termasuk aktifitas di luar.waduh mudah-mudahan esok pagi nanti hujan ini reda,pikir ku.seperti biasa selepas Sholat subuh ku bikin se cangkir teh manis lalu meminumnya hingga terasa hangat merambat di tenggorokan,mampir di dada dan terus berjalan di antara usus-usus yang masih kosong,sejenak mataku terpejam menikmati anugrah yang tak ternilai itu,bukan hanya karena teh nya yang enak tapi karena lidah ku masih bisa mngecap dan seluruh tubuh ku masih dalam keadaan sehat wal`afiyat.Alhamdulilla ucap syukur atas MU Rabb.

Sambil dengerin Mq ku buka Alquran,beberapa ayat ku baca hingga aku lupa entah dimana,ntah terbuai nikmatnya teh yang baru saja di reguk,entah karena peraduan yang tengah membelaiku.Diantara gunung-gunung yang kering kerontang aku berlari mengejar yang tak pasti,aku merasakan haus yang begitu dahsyat,terlihat dari kejauhan gumpalan dan debur ombak yang menggulung berlarian.aku terus melangkah mendekati gumpalan itu sambil tak kuasa menahan haus yang teramat sangat,tapi entah kenapa semakin aku mendekat,gumpalan itu seakan menghindar dari ku bahkan begitu seterusnya hingga tak terasa aku sudah berada dianatara orang-orang yang tak punya mata,kaki,tangan,mulut dan entah lah aku tak mengerti.aku merasa paling sempurna di antara mereka semua,sedikit aku mengusung dada walau ketakutan mendera jiwa,aku berteriak meminta tolong,biarlah aku terbawa arus ombak atau berada di tangah gunung yang kerontang tadi dari pada harus berada di tengah-tengah mereka yang nampak menakutkan,kuperhatikan mereka sekali lagi,nampak seorang ibu dengan renta nya melambaikan tangan pada ku,aku sedikit terkejut karena wajah itu seperti tak asing bagi ku,namun aku kembali mengerutkan dahi,tapi”munginkah dia?”.aku menggeleng bukan, itu memang bukan dia. bukaaaaaaaaaaan, hah aku baru sadar kalo aku baru saja bermimpi, “ketika perlahan ku buka mata betapa terkejutnya aku,karena jam sudah menunjukan pukul 10 tepat,aku segera bangkit sambil rucang-riceng,lalu ku buka sela gordeng uuh betapa malu nya aku karena sang mentari sudah lama menunggu ku,, “tunggu bentar ya matahariku jangan biar kan hari ini meninggalkan ku”

mimpi 08

KAMEUMEUT HATE

Posted in Curat-coret cocoretan on November 12, 2009 by pihatur
[gallery]

hate teh keur rada salempang, komo mun pareng nyingareupan wanci sareupna bari hujan ngaririncik ti sore keneh, asa loba kamelang hirup jauh ti dulur jeung ti kolot teh, asa euweuh pisan tempat keur pakumaha. jung nangtung rada lalinglung, asa kebek ku piceurikeun, lamun seug teu inget kana pangawak mah da hayang jejeritan bari gogoleran. ngong adzan magrib asa nambahan kapeurih, berebey ci panon ngalembereh mapay pipi, asa bet harianeun kuring ka pangeran, haben we mikiran dulur nu jauh kolot nu anggang, padahal kuring boga pangeran nu murbeng alam. gusti nu teu weleh ngaping ngajaring diri, Allah nu teu weleh deukeut jeung sakabeh mahluk na. buru-buru kuring ka cai, wudlu bari rasa angger rada ngarakacak. keun sugan we ieu hiji ubar hate sangkan leuwih tenang tur tumarima. mudah2an Allah swt maparin kakiatan sareng ka sehatan. nitip pun biang sareng pun bapa ya Allah, nitip lanceuk jeung adi kuring ya Allah, nitip Alo-alo kuring ya Allah, mudah2an sakumna dina wanci anu ayeuna keur tunduk sumujud ka Anjeun ya Allah,

ret kamelang teh rada ka ubaran, bener ceuk ajengan , ku sholat mah sagala masalah pasti bisa di rengsekeun, sagala karerepet pasti bisa di tungtas keun. peuting beuki nyerelek ka wanci janari, keukeuh panon can bisa di peureumkeun, euweuh pisan pi tunduheun, anginpeuting nyeleket kana tulang tonggong. poho simut teu ka jait, jadi we baseuh ka hujanan. kalah parat ka subuhnakeun panon teh kalah jeler beureum jiga nu tos mabok, sirah balideg, beuteung mules, sungut murel. piraku ari nyiram mah. ah meureun kuring teh asup angin. sanggeus sholat subuh mah kuring buru-buru naheur cai keur ngahaneutan peujit.

Untuk Aku renungkan

Posted in Curat-coret cocoretan on Oktober 6, 2009 by pihatur

Terbersit dalam lamunan ku di suatu senja, saat ingatan ini melayang kepada saudara ku yang tengah tertimpa musibah. Pedih rasanya harus menyaksikan duka mereka, namun apa lah daya, Allah lah tempat kembali kita. Ada kainginan yang kuat dalam hati ini untuk membuka Alqur`an, untuk sejenak menelusuri ayat demi ayat yang membuktikan kalau bencana terjadi itu adalah benar-benar rencana Allah yang terjadi karena kelalaian kita sebagai hamba NYa. Alangkah terkejutnya, ketika aku mencoba menghubungkan waktu terjadi gempa dengan Ayat Alqur`an, aku semakin yakin akan keagungan ayat Allah, aku semakin takut kalau lah benar kita adalah umat yang di binasakan karena memang kita sudah jauh dari Allah dan jauh dari Petunjuk Allah yaitu Alquran.

1. Waktu gempa di Jawa Barat adalah Pukul 15:04 Itu sesuai dengan Surat Al`hijr ayat 4 “Dan kami tiada membinasakan suatu negeri pun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah di tetapkan (Alhijr ayat 4)”
2. Waktu Gempa di Sumatra Barat adalah pukul 17:16 Sesuai dengan QS. Al`isra ayat 16 “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya mentaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami)kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”
3. Waktu Gempa susulan 17:58 Sesuai dengan QS. Al`Isra ayat 58 “ Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya) melainkan kami membinasakannya sebelum hari kiamat, atau kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras, yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (lauh mahfuzh)
4. Waktu Gempa Jambi adalah pukul 08:52 Sesuai dengan QS. Al`anfal ayat 52 “ Keadaan mereka serupa dengan keadaan firaun dan pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya.mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka di sebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah maha kuat lagi amat keras siksaanya”.

Mudah mudahan renungan kecil ini menjadi sebuah dobrakan besar untuk diri ku bahwa Allah senantiasa menepati janji-janjinNYA. Sungguh tiada berarti hidup ini tanpa kedekatan dengan Allah dan keakraban dengan Alqur`an sebagai petunjuk keselamatan ku di dunia dan Akhirat, Wallhu `alam bissowab

@ Koko Komarudin http/Pihatur.wordpress.com

Kenapa hariku tak seindah dulu

Posted in Curat-coret cocoretan on Oktober 6, 2009 by pihatur

Rona wajah ku menggelembung bagai buih hitam tak karuan, kadang meluap diterpa air bah menghanyutkan. daun daun berjatuhan seakan tak lagi punya nyali untuk terus kokoh menghiasi ranting pepohonan. tak pernah ku akhiri jeritan dalam lamunan, tak pernah ku hentikan teriakan dalam angan. akankah hari itu kembali hadir mengembalikan sisa usia ku yang hampir usai. aku mulai merunduk, menutup mata , dan mencoba membuang semua angan yang semu, aku mencoba menghadang semua mimpi yang tak mungkin aku dapati. tiba-tiba celah itu nampak jelas di ujung penglihatan ku yang hampir kabur, ku coba singsingkan awan yang menyelimuti relung jiwa ku, dalam redup nya senja, aku mulai merenungi keberadaan ku di hari ini, apakah hari esok masih berpihak pada ku, ah tak usah lagi ku sesali hari ini yang sudah ku lalui, aku harus merajut malam ini, aku harus bersiap mengokohkan sikap ku untuk menyongsong hari esok, aku yakin hari bahagia itu akan kembali hadir seiring keyakinan ku yang tumbuh, berbunga dan berbuah. meski tak lagi ada ujan atau badai, namun tetesan embun itu yang menyirami kegersangan jiwa ini. di penghujung senja itu,, ku lihat wajah ku yang lusuh tak berseri, entah cermin yang salah, atau memang kenyataan di hadapan, aku penuh tanya, aku penuh sapa. akankah ku lalui hidup ini penuh isi, hingga aku bisa mereguk kebahagiaan itu hingga hari terakhir ku menginjak bumi, hingga detik terakhir ku menatap langit, hingga hela nafas ku yang terakhir sebelum aku menutup mata yang terakhir…..

sex in my village

Posted in Curat-coret cocoretan on Agustus 10, 2009 by pihatur

BUnga mawar merah ranum diantara melati yang putih mewangi. embun pagi belum sempurna turun,sebagian masih bergelantungan diantara daun pandan dan rerumputan. sekali lagi aku buka jendela belakang yang menghadap perkebunan teh. nampak para ibu pemetik teh tengah menarikan jemarinya memetik tangkai demi tangkai pucuk teh yang terlihat anggun menghijau. tak terdengar suara burung, hanya para buruh berteriak bersahutan. mentari kian menanjak tinggi, embun pun tak lagi bergelantungan, semua lenyap di telan bumi merambat melewati akar hingga berwujud tangkai, daun, bunga dan buah. setiap hari mungkin begitu, hanya saja kita kehilangan waktu untuk memperhatikan mereka. siang hari ini aku harus menelusuri pojok demi pojok perkebunan ini, perkebunan yang luas membentang, tak mungkin rasanya aku harus menggunakan kedua kaki ini untuk mengitarinya. terpaksa merogoh kocek untuk sewa ojek. lalu lalang orang2 tak sedikit pun ku perhatikan, pandangan ini larut dalam hijau nya perkebunan, hingga tak terasa senja mulai menyapa, lembayung pun kian merona. aku harus mengakhiri perjalanan ini, sejenak ku hela nafas tak rela rasanya bila kutinggalkan kehijauan meski aku harus berselimut gelap nya malam. kadang aku berpikir aneh, mungkinkah kehijauan ini akan berubah malapetaka kehidupan?? benar benar aneh, tapi itu lah kenyataan. ketika malam tiba perkebunan ini tak lagi di singgahi si pemetik teh, tetapi mereka kaum tua muda yang tengah melupakan Tuhan, mereka yang berlaku laksana hewan, bukan hanya malapetaka yang mereka ciptakan, tetapi juga ketidak senonohan dan kemungkaran. mereka angkuh dengan kebebasan.

Sandiwara kah ini???

Posted in Curat-coret cocoretan on Agustus 10, 2009 by pihatur

Aku tidak sedang bersandiwara, aku sedang kritis dan tak berarah, aku perlu pegangan dan pijakan, aku perlu seseorang yang bisa saling menguatkan, kalau lah kau tahu betapa remuk redan nya jiwa ini tentu kau tak kan rela meninggalkan ku dalam kesendirian. tahu kah kau betapa ku tak ingin semua ini terjadi, aku hanya ingin kau, bukan yang lain. hanya itu yang ku ingin, bukan yang lain. malam ini dan entah sampai malam kapan aku harus rela merenungi ini semua, akan kah kau kembalikan kebahagiaan itu?? akan kah kau rengkuh diri ini kembali, kalau lah kau tahu bahwa aku sedang di ujung jurang yang terjal, akan kah kau menarik ku agar aku tidak terjatuh ke dalam nya. aku mulai termenung lagi, aku mulai sendiri lagi, aku mulai berhalusinasi seperti dulu, seperti hal yang ku takuti sebelumnya, aku tak bisa melawan, aku tak bisa berteriak, aku tak bisa berlari. kapan sandiwara ini akan berakhir??? aku lelah, aku cape, aku tak mungkin dapat melanjutkan sandiwara ini hingga episode terakhir, kecuali kau berada di sini, di dekat ku, di halaman mata hati ku, dah rapat tak berjarak dengan nurani ku. bantulah aku wahai engkau yang jauh disana,,,, aku lagi dalam kegundahan yang luar biasa, bila engkau tak lagi dapat berjalan, ambilah kedua kaki ku agar kau bisa sampai di hati ku, andai kau tak bisa melihat, ambilah kedua mata ku, agar kau tahu betapa aku merindukan mu, andai kan kau sudah tak bisa mendengar, ambilah kedua telinga ku agar kau bisa mendengar rintihan dan teriakkan ku. namun ternyata kau mungkin sudah tak lagi bisa apa-apa, hingga aku terkulai tak berdaya mendapati kau sudah tak bernyawa, Mungkin kah ini akhir dari sandiwara????