kisah dan hikmah
|
Aku Hanya Seorang Hamba AKU HANYALAH SEORANG HAMBA Pada masa Rasulullah memimpin masyarakat Madinah, selaku orang besar ia justru paling melarat, walaupun warga Madinah hidup berkecukupan. Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Sayidatina ‘Aisyah menceritakan “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai shalat.” Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya, “Belum ada sarapan ya Khumaira?” (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang berarti ‘Wahai yang kemerah-merahan’) Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasulullah menegur, “Mengapa engkau memukul isterimu?” Lantas dijawab dengan agak gementar, “Isteriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasehat dia tetap bandel, jadi aku pukul dia.”
“Aku tidak bertanya alasanmu,” sahut Nabi s.a.w. “Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu bagi anak-anakmu ?” Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda dalam menjadi kepala keluarga tidak menampakkan kedudukannya sebagai pemimpin umat.
“Tapi mengapa tiap kali engkau menggerakkan badan dalam shalat, kami mendengar bunti tulang-tulangmu yang berkeretakan?”. Mula-mula, Nabi tidak ingin membongkar rahasian. Namun, karena para sahabat tampaknya sangat was-was memperhatikan keadaannya, Nabi terpaksa membuka pakaiannya. Serta merta Umar pun memekik pedih, “Ya, Rasulullah, apakah sudah sehina itu anggapanmu kepada kami? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan lapar, kami tidak bersedia memberimu makan yang paling lezat ? Bukankah kami semuanya hidup dalam kemakmuran ?”.
Para sahabat pun sadar akan peringatan yang terkandung dalam ucapan Nabi tersebut, sesuai dengan tindakannya yang senantiasa lebih mementingkan kesejahteraan umat daripada dirinya sendiri.
Baginda hanya diam dan bersabar ketika kain rida’nya ditarik dengan kasar oleh seorang Arab Baduwi hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencing si Baduwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu. Mengenang pribadi yang amat halus ini, timbul persoalan dalam diri kita… adakah lagi bayangan pribadi baginda Rasulullah s.a.w. hari ini?
Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH S.W.T dan rasa kehambaan yang sudah menyatu dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.
Menandakan betapa kesehatan penduduk Madinah betul-betul berada pada tingkatan yang tinggi. Sampai tabib itu bosan dan bertanya kepada Nabi, “Apakah masyarakat Madinah takut kepada tabib?” Nabi menjawab, “Tidak. Terhadap musuh saja tidak takut, apalagi kepada tabib”. Tabib itu kurang percaya, “Masak tidak ada seorang pun yang mengidap penyakit?”. Ketika pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah hingga pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiklnya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. ketika ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah, “Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin masuk Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini ?” Aku Dimakamkan Hari Ini Perlahan, tubuhku ditutup tanah, Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi, Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian, Menyesal sudah tak mungkin, Tuhanku, Aku harus berkeliling, memohon ma’af pada mereka, Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini, Dan Tuhan, begitu sesal diri ini Aku dimakamkan hari ini,
Aku dan Rabbku
Imam Al Ghazali dalam risalahnya Al Asma Al Husna menuliskan kecintaan kepada Allah bisa ditingkatkan dengan tiga cara ; (i) mengingatnya (ii) mempercayainya (iii) mempertahankannya. Begitu pula Pak Ary Ginanjar dalam bukunya “Rahasia membangun kecerdasan Emosional dan Spiritual” beliau menulis bahwa seorang hamba bisa menjadi manusia yang luar biasa jika mau meneladani sifat-sifat Allah dengan cara mengingat-ingatnya dan meneladani sifat-sifat-Nya. Sesungguhnya antara hamba dengan Rabbnya ada 2 panghalang ; (i) ilmu dan (ii) ego (Aku). Perasaan jenuh, bosen, mandek atau tidak ada peningkatan terkadang datang pula, tapi ingat pesan “yang mencari akan menemukan” ada secercah harapan untuk mencari lagi, baik itu dari buku, artikel baik itu di majalah atau di internet, seminar , maupun taklim – apa saja. Alhamdulillah masih ada rasa haus yang belum terpuaskan dengan minuman yang standard. Mencoba untuk flash back ke zaman para sahabat yang memiliki tingkat keimanan yang mempesona dan berdecak kagum setiap kali membaca kisahnya, sudah tentu pengetahuan mereka tentang surga, neraka, negri akhirat dan segala sesuatu yang terjadi didalamnya berbeda dengan pengetahuan saya dan itu mungkin yang membuat tingkat keimanan saya seolah tak bergerak. Ego, Aku “barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya dan barang siapa yang mengenal dirinya maka tidak ada waktu untuk mencari kesalahan orang lain”. Ada perasaan aneh menghampiri ketika mencoba berlama-lama bercermin. sudah berapa jauh saya mengenal diri saya dengan baik dan sudah berapa lama saya menyadari begitu sangat rentannya melakukan kesalahan setiap detik. Teringat kembali firman Allah SWT “Sesungguhnya Aku mengikuti perasaan hamba-Ku terhadap-Ku” kenapa tidak saya coba untuk mengatakan ke diri saya sendiri dengan menggunakan 3 metode dari imam Al Ghazali diatas : “saya selalu bersamaMu ya Allah” ( bukannya saya ingin bersamaMu), “saya selalu mencintaiMu ya Rabb” (bukannya saya ingin mencintai-Mu), “saya selalu merindukan-Mu ya Tuhanku”. Ada perasaan puas yang mengalir, seolah-olah sesuatu yang sudah tercapai dan tinggal menikmati saja perjalanan hidup bersama Al Malik, Al Aziz. Perasaan tenang, aman, damai, bahagia yang selama ini dicaripun mulai rajin menjenguk orang pesakitan seperti saya. Wallahua’lam bi shawab.
AIRMATA RASULULLAH SAW… Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai ding! in, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. NB: Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin… Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangi mu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu diakhirat. akwah.orgSadarkan diri kita akan hal di atas, hitung-hitunglah ‘tinggal’ berapa tarikan nafas usia kita masing-masing………. Mumpung kita masih punya ’sekian juta’ tarikan nafas, sebaiknya kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, lakukan segala aktifitas dengan mengatas namakan Allah. (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syeitan yang terkutuk, artikel ini saya tulis sama sekali bukan bermaksud mendahului ketentuan Allah, melainkan semata-mata agar kita semua ingat akan pentingnya waktu) Sampai dengan tahun 80-an, sering terbaca oleh kita bahwa umur rata-rata orang Indonesia adalah 60 tahun. Setelah era 80-an sampai saat ini umur rata-rata tersebut naik menjadi 65-an, hal ini kemungkinan disebabkan makin banyaknya orang yang sadar akan kesehatan, juga bisa disebabkan makin banyaknya fasilitas kesehatan yang mudah diperolehan masyakarat, misalnya makin menjamurnya puskesmas-puskesmas, dll ……… yang pasti itu memang sudah kehendak Allah. Namanya saja ‘rata-rata’ berarti bisa saja seseorang meninggal sebelum usia 65 tahun, namun juga bisa setelah melampaui usia itu. Untuk memudahkan ‘renungan kita’, maka sebaiknya angka (usia) 65 di atas sebaiknya kita jadikan patokan, agar renungan kita jadi lebih terfokus. Misalnya usia kita saat ini adalah 30 tahun, jadi sisa hidup kita ‘tinggal’ : 65 tahun – 30 tahun = 35 tahun. Bila 1 tahun itu lamanya 365 hari, maka usia kita ‘tinggal’ : 35 x 365 hari = 12.775 hari. Bila 1 hari itu 24 jam, maka usia kita ‘tinggal’ : 12.775 x 24 jam = 306.600 jam . Harap kita ingat, dalam 24 jam itu seseorang pasti mempunyai waktu tidak aktif, artinya waktu dimana seseorang harus istirahat, baik jasmani maupun rohani, yakni tidur. Misalnya waktu tak aktif itu adalah 7 jam, maka waktu aktif seseorang ’sebetulnya’ hanya 17 jam . Jadi waktu hidup yang aktif itu hanya ‘tinggal’ : 12.775 x 17 jam = 217.175 jam . Bila 1 jam itu adalah 60 menit, maka usia kita ‘tinggal’ : 217.175 x 60 menit = 13.030.500 menit. Bila 1 menit itu adalah 60 detik, maka usia kita ‘tinggal’ : 13.030.500 x 60 detik = 781.830.000 detik … Terakhir………bila seseorang itu sekali menarik nafas lamanya rata-rata 2 detik, maka usia kita ‘tinggal’ = 781.830.000 : 2 = 390.915.000 tarikan nafas. Sadarkan diri kita akan hal di atas, hitung-hitunglah ‘tinggal’ berapa tarikan nafas usia kita masing-masing………. Mumpung kita masih punya ’sekian juta’ tarikan nafas, sebaiknya kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, lakukan segala aktifitas dengan mengatas namakan Allah, agar semua langkah kita insya Allah bisa bernilai ibadah, karena kita dicipta oleh Allah tujuannya adalah supaya beribadah kepadaNya. (QS.adz-dzaariyaat : 56) Sesali dan bertaubatlah kalau pada tarikan nafas yang telah lalu kita pernah berbuat salah, kita pernah lupa menjaga lidah, kita pernah lalai menjaga pandangan, kita tak pernah merawat hati dengan baik sehingga hanya terisi nafsu duniawi, tak pernah mengingat Allah, dan senantiasa lupa akan mati. Mumpung masih dianugerahi Allah untuk menikmati tarikan nafas pada saat ini, dan insya Allah masih ’sekian juta’ lagi. Demi masa Sungguh tak lama usia kita………tinggal ’sekian juta’ tarikan nafas………. Note : syair di atas dikutip dari lagu ‘demi masa’ Raihan, yang bersumber dari QS.al ashr : 1-3 dan hadist .
Kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin Berikut ana kutipkan fragmen dari sebuah majalah:Fragmen 1: Fragmen 2: Saya fikir semacam membuat pasar internal, GORO internal. Membangun dan memberdayakan perekonomian internal. Masalahnya ada kesenjangan yg besar. Sebagian ikhwah kita sulit sekali mendapatkan Rp 3000 dlm sehari. Sementara ada di antara kita yg zakat hartanya berbilang puluhan juta.’ Masih ada dua fragmen lagi di majalah al izzah [edisi juni], intinya tentang pendidikan dan media. pendidikan yg ada sekarang sangat minim pendidikan yg bermutu, kalaupun ada, biasanya menuntut biaya yg tinggi, misalnya SDIT yg mulai merebak di masyarakat.Tentang media, kita tahu bahwa media amat berperan membentuk wajah ummat. Bermimpilah…bermimpilah tentang rumah sakit yg Islami, Pertokoan yg Islami, Sekolah yg Islami, bahkan media dan film pun Islami Namun jangan hanya sekedar bermimpi, menunggu, apalagi menyalahkan. Kita lakukan saja apa yang bisa kita lakukan. Sekecil apa pun itu, artinya kita sudah memulai. Selebihnya kita berdoa, Allah menghimpun yg kecil dan berserakan ini menjadi satu dan besar lagi kokoh. Dengan itu Dia memuliakan Islam dan memenangkannya dari konspirasi kafir, musyrik, dan munafik. Amin.Wallahu a’lam
MATA YANG TIDAK MENANGIS DI HARI KIAMAT
Menipisnya Ibadahku Assalamu’alaikum kamarku tersayang. kembali aku pulang ke tempat kos ini KUBAH..sebuah novel yang dipinjami teman sekantor dan sudah seminggu ini Enaknya berbaring begini badanku rasanya remuk semua, aku sudah nggak tau “Ya..Allah lelahnya badan ini, hati ini untuk meniti hidup ini sendiri Novel ini bikin ngantuk mataku, di Tv semua acaranya pada sinetron Jam 9.00 malam, cepet banget jam itu berputar, aku belum sholat isya’, Aduh weker ku sudah bunyi pasti sudah jam 1, tapi masih jauh dari pagi,lima menit lagi deh aku tidur mungkin akan hilangkan kantukku…Ya Allah jauhkanlah setan tidur ini dari tempat tidur ini dan mata ini. Aku ini yang setan atau memang ada setan dikamar ini…kenapa berat sekali sekarang aku bangun malem. Aku yakin ini adalah cobaan dari Allah…sebulan ini nggak ada yang aku lakukan kecuali kerja, pulang ke kos, nonton TV dan menunda sholat tepat waktu dan meninggalkan Tahajjud ku dan Dhuha ku. Kemana rutin ibadahku aku juga nggak tau. Tiba-tiba sekarang baru sadar rutinitasku telah berubah, cobaan yang ini begitu berat, sulit sekali mengembalikan ibadah rutinku, dalam do’a aku selalu memohon untuk ditetapkan iman ihsan dan islam, tapi sekarang aku berada diantara kesesatn. “Hamba kenapa Allah…apa yang tersembunyi dibawah alam sadarku. Hamba sadar semua ibadah menjadi sia-sia kalau hamba seperti ini terus. Tapi setan dikamar ini begitu kuatnya, tolong lah Allah..tolong hamba ini..tipis sekali ibadahku dalam satu bulan ini..kembalikanlah kembali kepadaku..kembalikan sholatku.. puasaku.. amalku… kembalikan padaku, golongkanlah aku ke orang-orang sholeh dan sholehah yang Engkau ridho’i”. Adzan shubuh membuyarkan semuanya, aku harus mandi, sholat dan pergi kekantor, aktifitas pagi yang satu ini alhamdulillah belum berubah. Do’aku kemalasan..kesesatan di alam setan akan terhapus hari ini, mundurnya ibadahku..tipisnya ibadahku akan berakhir hari ini..aku akan memulai pagi ini dengan sholat shubuh tepat waktu, kembali ber Dhuha dan bekerja untuk beribadah. Dan akan menjalankan rutinitasku sebagai muslimah dengan istiqomah..semoga setan keluar dari kamar ini, rumah kos ini, dari paling penting dari diri dan hati ini. (sebuah cerita tapi ada).
|
Why me?Embun Taushiyah – 01 Juli 2001
Feeling: Ketika aku ditimpa kemalangan, ketika aku melihat wajahku yang tidak cakep, penghasilanku yang tidak seberapa, beban hidupku yang menggunung, ketika melihat semua yang negatif pada diriku sendiri, aku bertanya: Wy me?Thinking: Kemudian aku berfikir: betapa tidak adilnya aku menanyakan Why Me hanya ketika mendapat sesuatu yang negatif. Mengapa aku tidak menanyakan why me untuk sesuatu yang positif?
Ketika aku menghirup udara pagi, ketika aku menghadapi sepiring nasi, ketika mengedipkan mata, ketika melangkah..sehingga aku melihat bahwa why me benar-benar memotivasi seluruh gerak hidupku.
Faith: Tiba-tiba seseorang memberitahu mengenai why me, bahwa ia bernama lain muhasabah. Bahwa ia bukan menyesali sesuatu, tetapi tawakkal. Bahwa ia bukan sekedar memotivasi hidup, tetapi mempersiapkan suatu masa setelah hidup. Bahwa ia bukan sekedar panggilan jiwa, tetapi juga perintah Allah dan Rasul-Nya.
Why me?
Karena aku adalah seorang hamba dan khalifah
Sahabatku…….
Matahari sudah condong ke sebelah barat. Berdua dengan Sari, saya menyusuri jalan menuju stasiun. Pengumuman kereta akan segera datang telah terdengar, kami berdua semakin mempercepat langkah. Alhamdulillah masih bisa dikejar. “Kamu sudah beli karcis belum,” tanya Sari. “Nggak sempat, nanti kucing-kucingan saja kalau ada petugas,” jawab saya ringan, kaki sudah hampir masuk ke gerbong, tapi Sari malah menarik saya menjauhi kereta. Kereta berangkat. “Kenapa ngga beli karcis dulu,” kali ini mukanya agak keruh. “Kan ngga sempat, lihat tuh, mana antri lagi, males,” mata saya mengarah ke tempat penjualan karcis. “Ya sudah tunggu disini.” Sari bergegas pergi, dan dengan tidak enak hati saya memandangi punggungnya yang menjauh. “Berapa lama,
waktu antri untuk membeli karcis,” katanya ketika tiba di hadapan saya, tangannya menyodorkan karcis.
“Sepuluh menit” singkat saya. “Gara-gara sepuluh menit, kamu bisa jadi antri di neraka”. Drrrrr, gemetar juga ditembak telak seperti itu. “Dan saya nggak mau ikut-ikutan antri disana, gara-gara nggak ngingetin kamu,” tambah Sari. Saya diam, kena setrum sepertinya. “Sudahlah, lain kali jangan curang!” perintahnya, kali ini dia memandang saya penuh arti.
Kalau terkenang dengan peristiwa tadi, saya selalu bergumam “Alhamdulillah… saya mempunyai sahabat”.
“Eh ada yang kangen ingin berjumpa dengan mu lho, mendengar rayuan mautmu, melihatmu mengemis memohon
cinta. Ayo bangun. Tahajud euyy!!!” itu isi SMS dari seseorang yang baru saya kenal beberapa bulan. Pesan yang terus menerus dikirimnya selama hampir 1 minggu, pada jam 03.00 pagi, tidak kurang. Sebuah SMS yang sebelumnya diawali dengan misscall beberapa kali. Awalnya saya sempat merasa terganggu dan menyembunyikan HP dibawah bantal agar bunyinya tidak terdengar.
Ketika saya membalas SMS-nya dengan “Tidak sayang pulsa tuh, mengganggu ketenangan orang”, SMS-nya pun
datang, “lho katanya kamu sedang punya banyak masalah”. Sangat singkat, mengingatkan bahwa 2 hari yang lalu saya curhat kepadanya.
Sekarang, kala mengingatinya, juga selalu hati ini berujar “Alhamdulillah, saya memiliki sahabat yang demikian….”.
Ini kisah yang saya dengar dari seorang muslimah. Suatu ketika, dia dan alumni pengurus Rohis SMA, berkumpul. Salah seorang rekan dari pengurus semasa Rohis (sebut saja A) baru saja meninggal, dan mereka baru tahu keadaan ekonomi keluarganya ketika melayat ke rumah A. Ternyata A ini tulang punggung ekonomi keluarganya, selain yatim, ibunya hanya berjualan ala kadarnya. Ibunya bercerita, salah seorang adiknya hampir mau ujian tapi karena tidak ada biaya, akhirnya gagal merampungkan sekolah.
Dibahaslah solusi untuk meringankan beban ibunda A, dengan sebelumnya beberapa rangkaian taushiyah bergulir. Semua yang hadir larut, banyak air mata di sana. Air mata cinta. Diakhir pertemuan, terkumpullah materi yang tidak sedikit, perhiasan, uang, sepeda motor, sepeda, dan sepasang sepatu baru. Kita pasti tahu kisah selanjutnya, si ibu tak henti menangis, dan hampir tersungkur di hadapan mereka. Allahu Akbar.
Sungguh kisah tadi seperti pesan yang disampaikan seorang ulama “Persahabatan antara orang-orang mukmin, menyatunya kalbu mereka, dan kecintaan yang terjalin diantara mereka merupakan karunia Allah bahkan juga
termasuk taqarrub, dalam ketaatan yang paling agung” Dan Alhamdulillah, Almarhum A ini mempunyai sahabat
seperti mereka…
Dunia menjadi penuh makna ketika kita mempunyai banyak sahabat. Dunia menjadi berpelangi tatkala banyak
sahabat mengelilingi kita. Kahlil Gibran menyebut “Kesendirian adalah himpunan duka cita”. Tentu saja, karena manusia dicipta untuk hidup dalam kebersamaan, seperti firman Allah “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu sekalian (terdiri dari jenis) laki-laki dan perempuan, dan Kami menciptakan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat:13).
Sekali lagi, banyak hikmah yang dapat kita reguk dari persahabatan. Dan juga perlu diingat, kita harus cerdik pula dalam memilihnya. Dalam era sekarang ini, ketika ‘fenominul’ begitu menyesakkan hati umat Muslim, menjamurnya narkoba, pesta muda-mudi, sepertinya kita butuh filter ampuh untuk memilih sahabat. Dan filter itu bisa begitu ampuh ketika kita mempunyai sahabat yang mampu mendekatkan diri kita kepada pemilik dari segala filter, Allah.
Memilih sahabat bukan berarti membeda-bedakan manusia. Memilah sahabat berarti kita menilainya dari karakter
dan sifat yang dimilikinya. Sebuah persahabatan yang nantinya akan terjalin juga tidak seharusnya didasarkan pada parameter-parameter duniawi saja. Sungguh, ketika kita berjumpa dengan seorang yang berakhlak baik, menjaga shalatnya, maka itulah parameternya. Dan itulah yang dilakukan orang-orang shalih terdahulu dalam menimbang siapa saja yang pantas menjadi sahabat baginya. Ayo, pikatlah sahabat sebanyak yang kita mampu. Sahabat yang tidak menjadikan kita, manusia yang disebut-sebut Al-Qur’an, “Pada hari si zhalim menggigit kedua tangannya seraya berkata: Ah, seandainya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Malang nian, mengapa dulu aku menjadikan si fulan menjadi sahabat akrabku”. (Al-Furqan 27-28)Dan jangan lupa, “shalih sendiri” juga tidak bermanfaat, jadi pikatlah sahabat yang ketika dia mengenang kita, dia akan berujar “Alhamdulillah, saya mempunyai sahabat sepertimu…”
Akhirnya, saya sampaikan salam keselamatan untukmu yang berkenan membaca tulisan ini. Izinkan saya menyebutmu sebagai “sahabat”. Saya ingin menggelarimu “sahabat”, panggilan mesra Nabi al-Musthafa pada generasi setia di zamannya, sapaan akrab terdengar begitu merdu. Sebuah kosa kata indah yang saya temukan
dalam buku “Berbagi cinta dengan para Sufi” sebagai kiasan bertubi untuk orang yang paling mempunyai
makna. Dan sekarang, saya ingin mengadopsinya untuk anda yang sekali lagi berkenan membaca tulisan ini.
Sahabat, semoga Anda membendaharakan kata ini juga untuk saya. Dan ketika anda menjadi sahabat, tak akan
pernah jengah anda memperingatkan, ketika saya salah melangkah.
3 Sahabat
Embun Taushiyah – 24 Juni 2004 (Sumber : milis)
Tiga sahabat, yang selalu mendampingi kita dalam hidup ini dan sering kita
beda-bedakan dalam kenyataan hidup ini.
Sahabat-sahabat yang dimaksud antara lain :
Sahabat Pertama yaitu sahabat yang sangat kita idam-idamkan, sangat kita
impikan, sangat kita jaga karena takut kehilangan, sangat kita sayang,
sering kita memuji keadaannya yang indah dan cantik. Bahkan karena sahabat
yang pertama ini kita sering lupa diri dan melupakan sahabat-sahabat yang
lainnya. Pada sahabat pertama ini kita sangat setia. (Siapakah dia?.?)
Sahabat Kedua yaitu sahabat tempat kita curhat segala isi hati, sahabat
kedua ini sering mendo?akan kita, mendambakan kita, mengharapkan kehadiran
kita, sangat menyayang kita dan sangat setia sampai kapan dan dimana pun,
sahabat kedua ini sering rela berkorban untuk kita dengan segala
kemampuannya. Kita sangat sayang kepada sahabat kedua ini, akan tetapi
kita juga sering melupakannya ketika kita sedang dekat dengan sahabat
pertama. (Siapakah dia?.?)
Sahabat Ketiga yaitu sahabat yang sebenarnya sangat kita kenal, tetapi
kita sering bersikap acuh tak acuh bahkan jelas-jelas sering kita
melupakannya dan menjauhinya. Kesetiaan, perhatian dan kedekatan kita pada
sahabat ini sangat kurang, padahal seandainya kita tahu sahabat ketiga
ini, tanpa diminta pun dia selalu setia akan mendampingi kita kemanapun
kita pergi dan bahkan mampu menyelamatkan kita disaat kita mengalami
kesusahan/kesesatan. (Siapakah dia??)
Suatu hari datanglah kerumah kita seorang tamu yang tak diundang
menjemput/mengajak kita pergi. Ajakan tamu itu kadang-kadang sering
menakutkan kita, padahal ajakannya itu adalah merupakan sebagian dari hak
yang harus kita dapatkan dan kita jalani dalam hidup ini.
Karena takut kehilangan dan takut jauh dengan ketiga sahabat di atas, kita
mencoba untuk mengajak mereka semua agar mau menemani kita ketika pergi
bersama dengan tamu itu. Namun?????
Sahabat Pertama, sahabat yang sangat kita sayang, bahkan sayangnya kita
kepada sahabat ini bisa mengalahkan sayangnya kita kepada sahabat-sahabat
yang lain (sahabat kedua dan ketiga). Saat kita akan pergi bersama tamu
tadi, sahabat ini tidak bisa ikut mengantarkan kita, dia hanya diam
membisu. Inikah balasan yang diberikan dari sahabat pertama kepada kita
yang sangat menyayanginya??. Sahabat ini tidak bisa kita ajak, tidak bisa
kita bawa, tidak bisa menemani kita dan kata terakhir
hanya?daaaghghh?selamat jalan?..
Sahabat Kedua, sahabat ini saat kita ajak untuk ikut dengan tamu itu dia
lebih baik dari sahabat yang pertama dan dia bisa mengantarkan kita namun
dia tidak bisa seterusnya pergi dengan kita karena sahabat kedua ini masih
punya tugas dan kewajiban yang lain dan dia hanya bisa menitikan air mata
dan mendo?akan kita ketika pergi dengan tamu itu, semoga kita bahagia
disana.
Sahabat Ketiga, sahabat yang pernah kita lupakan dan kita jauhi, tetapi
disaat kita ajak untuk ikut dengan tamu itu dia mau mendampingi kita
dengan setia tanpa pamrih. Sebenarnya sahabat ketiga ini tanpa kita minta
pun dia sudah siap untuk pergi dengan kita kemanapun. Oh?setelah tahu,
kita sangat menyesalinya kenapa kita menjauhi sahabat ketiga ini?dan
siapakah dia ini????
Para pembaca yang budiman inilah nama sebenarnya dari Tamu, dan ketiga
sahabat kita.
Tamu adalah Malaikat Izroil (pencabut nyawa)
Sahabat Pertama adalah Harta dunia
Sahabat Kedua adalah Keluarga
Sahabat Ketiga adalah Amal Ibadah
Pandai-pandailah kita bersikap kepada semua sahabat agar mereka selalu
bisa bersama kita sampai kapan pun. Sikap kita kepada :
Sahabat Pertama, manfaatkan di jalan Allah SWT sebagai amal jariah karena
harta dunia yang benar-benar milik kita adalah harta yang sudah kita
amalkan di jalan Allah SWT. Biar begelimang harta di dunia tetapi kurang
diamalkan harta itu, apalah artinya?.???. Ingat kebahagiaan dalam islam
adalah kebahagiaan di dunia dan akhirat (ingat do?a sapu jagad).
Sahabat Kedua, ajarkanlah kepada sahabat kedua ini segala kebaikan agar
semuanya menjadi keluarga yang soleh penuh rahmat dan lindungan Allah SWT.
Sahabat Ketiga, banyak-banyaklah amal ibadah selama kita hidup didunia
untuk bekal kelak di akhirat.
Amal ibadah yang pahalanya terus mengalir ke alam kubur :
- Ilmu yang bermanfa?at
- Doa anak soleh
- Amal Jariyah
Semoga semua ini bisa menjadi renungan untuk meningkatkan amal ibadah
Ada kekuatan di dalam cinta,
Dan orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan keinginannya
Untuk mementingkan diri sendiri.
Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan,
Dan orang tertawa gembira adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah terlarut
Dengan tantangan dan cobaan.
Ada kekuatan di dalam kedamaian diri,
Dan orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah tergoyahkan
Dan tidak mudah diombang-ambingkan.
Ada kekuatan di dalam kesabaran,
Dan orang yang sabar adalah orang yang kuat
Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu
Dan ia tidak pernah merasa disakiti.
Ada kekuatan di dalam kemurahan,
Dan orang yang murah hati adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya
Untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.
Ada kekuatan di dalam kebaikan,
Dan orang yang baik adalah orang yang kuat
Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik
Bagi semua orang.
Ada kekuatan di dalam kesetiaan,
Dan orang yang setia adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi
Dengan kesetiaannya kepada Allah dan sesama.
Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan,
Dan orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat
Karena ia bisa menahan diri
Untuk tidak membalas dendam.
Ada kekuatan di dalam penguasaan diri,
Dan orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.
……….
Disitulah semua letak-letak dimana Kekuatan Sejati berada….
Dan sadarlah bahwa kalian juga memiliki cukup Kekuatan untuk mengatasi segala masalah kalian. Dimanapun juga, seberat dan serumit apapun juga.
![]()

²½¬b\¤¿µ¿x«[`o¿ ã²[
(Ash Shaf :4) ½z¯²\Ä´^±¸³\§\ ¹¬Ä_~Å
Bangunan yang kokoh. Itulah ciri orang-orang yang dicintai dalam berjuang di jalan Allah. Dalam ayat ini, Allah menekankan pentingnya kerja sama, bukan sama-sama kerja. Di awal kepengurusan ini, ada taushiyah yang berbunyi “Kapankah akan sempurna sebuah bangunan jika engkau membangunnya dan orang lain menghancurkannya atau malah engkau menghancurkannya ketika orang lain membangunnya. Seribu orang yang membangun cukuplah dihancurkan oleh seorang penghancur. Bagaimana halnya jika ada satu orang yang membangun dengan dibelakangnya terdapat seribu orang penghancur”
Saya pernah berbicara dengan seorang al akh mengenai kontribusi seluruh ADK dalam seluruh kegiatan PMB di ITB baik itu PMB-G, PMB LDD, maupun OSKM. Kata ketua OSKMnya sendiri jumlah ADK yang terlibat dalam OSKM itu berkisar 100 orang (kalo gak salah). Lalu saya menanya kepada al akh tersebut,”Gimana sama ADK yang lain? Apakah mereka juga turut berkontribusi ataukah mereka hanya santai di suatu tempat sedangkan agenda dakwah menumpuk?” Beliau menjawab,”Wah saya juga kurang tahu tuh.” Dengan nada kecewa saya membalas,”Kok kita parah banget, kita gak rapi gini.” Berulang-ulang kalimat terakhir itu saya ucapkan sebagai bentuk kekecewaan.
Tapi pendapat saya itu ditanggapi beliau dengan berkata,” Bukan kita yang gak rapi, mungkin saya yang gak rapi.” Awalnya saya tidak mengerti apa yang beliau ucapkan tadi. Dalam hati saya mengulang-ulang perkataan beliau terakhir,”Bukan kita yang gak rapi, mungkin saya yang gak rapi.” Saya tidak pernah berpikir kalau kesalahan jamaah itu bisa jadi awalnya dari saya sendiri. Saya berpikir sampai pada poin itu saja.
Pembicaraan itu pun sempat berlalu begitu saja ketika saya beraktivitas di tempat lain. Namun hal itu kembali muncul ketika perjalanan pulang, kebetulan saya pulang berjalan kaki. Jadi daripada saya berpikir yang tidak tidak-tidak, lebih baik saya berpikir tentang pembicaraan tadi. BUKAN KITA YANG GAK RAPI, MUNGKIN SAYA YANG GAK RAPI. Itu kalimat yang selalu terngiang di telinga saya ketika dalam perjalanan pulang. Yang terus menimbulkan resah dan gelisah di hati ini.
Tapi memang kalau dipikir lebih lanjut lagi, hal itu memang benar. Bagaimana tidak? Coba mari kita renungi yang saya tulis dibawah ini hanya salah satu contoh yang paling dekat, Kuliah Dhuha. Kenapa sampai saat ini KD belum pernah mencapai KD Akh Hafidz bahkan lebih baik? Jawabannya mungkin ada pada diri kita sendiri. Sudahkah kita melaksanakan QL setiap malamnya? Seringkah kita shalat fardhu berjamaah? Pernahkah kita secara istimror terus menjaga hijab ikhwan-akhawat? Jika belum, sangat pantas jika Allah belum memberikan kemenangan melalui KD kepada kita. Tidaklah mengherankan jikalau Allah belum menurunkan pertolonganNya dalam setiap detik perjuangan kita, dalam setiap langkah perjuangan kita. Lalu sudahkah saya memimpin saudara-saudara saya yang lain untuk tetap berjuang di jalan ini? Sudahkah saya membuat materi yang menarik? Sudahkah saya berhasil mengatur keuangan dengan profesional? Sudahkah saya menjadi admin yang baik? Maksimalkahkah saya melayani jamaah? Sudahkah meluaskah networking? Sudahkah saya meng-up grade diri saya sendiri dan saudara yang lain? Sudah yang terbaikkah publikasi yang saya buat? Jadi, apa-apa yang saya buat telah ikut membangun KDkah atau malah turut menghancurkan KD? Belum berhasilnya KD ini disebabkan oleh saya sendiri.
Ikhwahfillah, dalam jamaah dakwah ini tentunya ada pembagian amanah. Semuanya menentukan dalam proses menuju kemenangan dakwah di muka bumi (minimal di Indonesia), tidak ada sesuatu yang disepelekan dalam setiap pembagian amanah. Sampai saat ini kita memang terus bercita-cita agar diberikan kemenangan oleh Allah, namun sampai saat ini yang terjadi adalah penurunan kualitas dari para aktivisnya (kata para pendahulu). Bisa jadi target dakwah belum tercapai karena saya gagal melaksanakan amanah yang diberikan. Dakwah ini mundur karena amalan yaumiah saya tidak beda jauh dengan orang ammah atau bahkan lebih rendah dari mereka yang notabene belum tersentuh tarbiyah. Kalau kita yang sudah tertarbiyah saja masih ‘parah’, apalagi mereka yang di luar sana, yang senantiasa menunggu cahaya Islam dari kita, para aktivis. Pernahkah kita berpikir kalau dakwah ini gagal karena memang saya yang kurang tilawahnya, jarang Qlnya, sedikit bersedekah. Karena kelemahan tersebut maka Allah menurunkan azabnya pada jamaah ini. Karena kesalahan saya, jamaah ini belum dimenangkan oleh Allah.
Wallahu a’lam bishoshowab
