Arsip untuk Curat-coret cocoretan kategori

Untuk Aku renungkan

Posted in Curat-coret cocoretan on Oktober 6, 2009 by pihatur

Terbersit dalam lamunan ku di suatu senja, saat ingatan ini melayang kepada saudara ku yang tengah tertimpa musibah. Pedih rasanya harus menyaksikan duka mereka, namun apa lah daya, Allah lah tempat kembali kita. Ada kainginan yang kuat dalam hati ini untuk membuka Alqur`an, untuk sejenak menelusuri ayat demi ayat yang membuktikan kalau bencana terjadi itu adalah benar-benar rencana Allah yang terjadi karena kelalaian kita sebagai hamba NYa. Alangkah terkejutnya, ketika aku mencoba menghubungkan waktu terjadi gempa dengan Ayat Alqur`an, aku semakin yakin akan keagungan ayat Allah, aku semakin takut kalau lah benar kita adalah umat yang di binasakan karena memang kita sudah jauh dari Allah dan jauh dari Petunjuk Allah yaitu Alquran.

1. Waktu gempa di Jawa Barat adalah Pukul 15:04 Itu sesuai dengan Surat Al`hijr ayat 4 “Dan kami tiada membinasakan suatu negeri pun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah di tetapkan (Alhijr ayat 4)”
2. Waktu Gempa di Sumatra Barat adalah pukul 17:16 Sesuai dengan QS. Al`isra ayat 16 “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya mentaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami)kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”
3. Waktu Gempa susulan 17:58 Sesuai dengan QS. Al`Isra ayat 58 “ Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya) melainkan kami membinasakannya sebelum hari kiamat, atau kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras, yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (lauh mahfuzh)
4. Waktu Gempa Jambi adalah pukul 08:52 Sesuai dengan QS. Al`anfal ayat 52 “ Keadaan mereka serupa dengan keadaan firaun dan pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya.mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka di sebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah maha kuat lagi amat keras siksaanya”.

Mudah mudahan renungan kecil ini menjadi sebuah dobrakan besar untuk diri ku bahwa Allah senantiasa menepati janji-janjinNYA. Sungguh tiada berarti hidup ini tanpa kedekatan dengan Allah dan keakraban dengan Alqur`an sebagai petunjuk keselamatan ku di dunia dan Akhirat, Wallhu `alam bissowab

@ Koko Komarudin http/Pihatur.wordpress.com

Kenapa hariku tak seindah dulu

Posted in Curat-coret cocoretan on Oktober 6, 2009 by pihatur

Rona wajah ku menggelembung bagai buih hitam tak karuan, kadang meluap diterpa air bah menghanyutkan. daun daun berjatuhan seakan tak lagi punya nyali untuk terus kokoh menghiasi ranting pepohonan. tak pernah ku akhiri jeritan dalam lamunan, tak pernah ku hentikan teriakan dalam angan. akankah hari itu kembali hadir mengembalikan sisa usia ku yang hampir usai. aku mulai merunduk, menutup mata , dan mencoba membuang semua angan yang semu, aku mencoba menghadang semua mimpi yang tak mungkin aku dapati. tiba-tiba celah itu nampak jelas di ujung penglihatan ku yang hampir kabur, ku coba singsingkan awan yang menyelimuti relung jiwa ku, dalam redup nya senja, aku mulai merenungi keberadaan ku di hari ini, apakah hari esok masih berpihak pada ku, ah tak usah lagi ku sesali hari ini yang sudah ku lalui, aku harus merajut malam ini, aku harus bersiap mengokohkan sikap ku untuk menyongsong hari esok, aku yakin hari bahagia itu akan kembali hadir seiring keyakinan ku yang tumbuh, berbunga dan berbuah. meski tak lagi ada ujan atau badai, namun tetesan embun itu yang menyirami kegersangan jiwa ini. di penghujung senja itu,, ku lihat wajah ku yang lusuh tak berseri, entah cermin yang salah, atau memang kenyataan di hadapan, aku penuh tanya, aku penuh sapa. akankah ku lalui hidup ini penuh isi, hingga aku bisa mereguk kebahagiaan itu hingga hari terakhir ku menginjak bumi, hingga detik terakhir ku menatap langit, hingga hela nafas ku yang terakhir sebelum aku menutup mata yang terakhir…..

sex in my village

Posted in Curat-coret cocoretan on Agustus 10, 2009 by pihatur

BUnga mawar merah ranum diantara melati yang putih mewangi. embun pagi belum sempurna turun,sebagian masih bergelantungan diantara daun pandan dan rerumputan. sekali lagi aku buka jendela belakang yang menghadap perkebunan teh. nampak para ibu pemetik teh tengah menarikan jemarinya memetik tangkai demi tangkai pucuk teh yang terlihat anggun menghijau. tak terdengar suara burung, hanya para buruh berteriak bersahutan. mentari kian menanjak tinggi, embun pun tak lagi bergelantungan, semua lenyap di telan bumi merambat melewati akar hingga berwujud tangkai, daun, bunga dan buah. setiap hari mungkin begitu, hanya saja kita kehilangan waktu untuk memperhatikan mereka. siang hari ini aku harus menelusuri pojok demi pojok perkebunan ini, perkebunan yang luas membentang, tak mungkin rasanya aku harus menggunakan kedua kaki ini untuk mengitarinya. terpaksa merogoh kocek untuk sewa ojek. lalu lalang orang2 tak sedikit pun ku perhatikan, pandangan ini larut dalam hijau nya perkebunan, hingga tak terasa senja mulai menyapa, lembayung pun kian merona. aku harus mengakhiri perjalanan ini, sejenak ku hela nafas tak rela rasanya bila kutinggalkan kehijauan meski aku harus berselimut gelap nya malam. kadang aku berpikir aneh, mungkinkah kehijauan ini akan berubah malapetaka kehidupan?? benar benar aneh, tapi itu lah kenyataan. ketika malam tiba perkebunan ini tak lagi di singgahi si pemetik teh, tetapi mereka kaum tua muda yang tengah melupakan Tuhan, mereka yang berlaku laksana hewan, bukan hanya malapetaka yang mereka ciptakan, tetapi juga ketidak senonohan dan kemungkaran. mereka angkuh dengan kebebasan.

Sandiwara kah ini???

Posted in Curat-coret cocoretan on Agustus 10, 2009 by pihatur

Aku tidak sedang bersandiwara, aku sedang kritis dan tak berarah, aku perlu pegangan dan pijakan, aku perlu seseorang yang bisa saling menguatkan, kalau lah kau tahu betapa remuk redan nya jiwa ini tentu kau tak kan rela meninggalkan ku dalam kesendirian. tahu kah kau betapa ku tak ingin semua ini terjadi, aku hanya ingin kau, bukan yang lain. hanya itu yang ku ingin, bukan yang lain. malam ini dan entah sampai malam kapan aku harus rela merenungi ini semua, akan kah kau kembalikan kebahagiaan itu?? akan kah kau rengkuh diri ini kembali, kalau lah kau tahu bahwa aku sedang di ujung jurang yang terjal, akan kah kau menarik ku agar aku tidak terjatuh ke dalam nya. aku mulai termenung lagi, aku mulai sendiri lagi, aku mulai berhalusinasi seperti dulu, seperti hal yang ku takuti sebelumnya, aku tak bisa melawan, aku tak bisa berteriak, aku tak bisa berlari. kapan sandiwara ini akan berakhir??? aku lelah, aku cape, aku tak mungkin dapat melanjutkan sandiwara ini hingga episode terakhir, kecuali kau berada di sini, di dekat ku, di halaman mata hati ku, dah rapat tak berjarak dengan nurani ku. bantulah aku wahai engkau yang jauh disana,,,, aku lagi dalam kegundahan yang luar biasa, bila engkau tak lagi dapat berjalan, ambilah kedua kaki ku agar kau bisa sampai di hati ku, andai kau tak bisa melihat, ambilah kedua mata ku, agar kau tahu betapa aku merindukan mu, andai kan kau sudah tak bisa mendengar, ambilah kedua telinga ku agar kau bisa mendengar rintihan dan teriakkan ku. namun ternyata kau mungkin sudah tak lagi bisa apa-apa, hingga aku terkulai tak berdaya mendapati kau sudah tak bernyawa, Mungkin kah ini akhir dari sandiwara????

Berhentilah Sejenak…….!!!!!!

Posted in Curat-coret cocoretan on Agustus 3, 2009 by pihatur

Mungkin kurang nyaman rasanya bila anda diajak menukik dari kesibukan super tinggi di atmosfer kebendaan, untuk hinggap sejenak di dahan perenungan.
Tapi biarlah rasa kurang nyaman itu kemudian sirna takkala ketenangan dan kejernihan datang menghampiri jiwa.

Berhentilah Sejenak.
Anda sedang dalam perjalanan yang perlu berhenti sejenak untuk beristirahat seraya mencocokan arah kompas, mengukur peta dan memeriksa bekal perjalanan.

Berhentilah Sejenak.
Untuk mengenali energi diri, meredakan kegelisahan, mengatasi kepanikan, menjaga harapan, memperkuat kemauan, menimbang umur sampai menemukan kembali martabat kemanusiaan.

Berhentilah Sejenak.
seperti yang disarankan seorang intelektual muda di zaman Rasulullah SAW, Muaz bin jabal ra, “Ijlis bina Mugni saah” (Duduklah bersama kami, kita perbaharui iman sejenak, HR.Bukhari)

Berhentilah Sejenak.
Marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai yang terakhir (baca: jangan mengharap mendapat ramadhan berikutnya), kita ambil makna dan hakekatnya, agar ia dapat menjadi ma’alim, rambu-rambu jalan yang memungkinkan musafir merasa yakin, aman dan lancar diperjalanan.