sex in my village

BUnga mawar merah ranum diantara melati yang putih mewangi. embun pagi belum sempurna turun,sebagian masih bergelantungan diantara daun pandan dan rerumputan. sekali lagi aku buka jendela belakang yang menghadap perkebunan teh. nampak para ibu pemetik teh tengah menarikan jemarinya memetik tangkai demi tangkai pucuk teh yang terlihat anggun menghijau. tak terdengar suara burung, hanya para buruh berteriak bersahutan. mentari kian menanjak tinggi, embun pun tak lagi bergelantungan, semua lenyap di telan bumi merambat melewati akar hingga berwujud tangkai, daun, bunga dan buah. setiap hari mungkin begitu, hanya saja kita kehilangan waktu untuk memperhatikan mereka. siang hari ini aku harus menelusuri pojok demi pojok perkebunan ini, perkebunan yang luas membentang, tak mungkin rasanya aku harus menggunakan kedua kaki ini untuk mengitarinya. terpaksa merogoh kocek untuk sewa ojek. lalu lalang orang2 tak sedikit pun ku perhatikan, pandangan ini larut dalam hijau nya perkebunan, hingga tak terasa senja mulai menyapa, lembayung pun kian merona. aku harus mengakhiri perjalanan ini, sejenak ku hela nafas tak rela rasanya bila kutinggalkan kehijauan meski aku harus berselimut gelap nya malam. kadang aku berpikir aneh, mungkinkah kehijauan ini akan berubah malapetaka kehidupan?? benar benar aneh, tapi itu lah kenyataan. ketika malam tiba perkebunan ini tak lagi di singgahi si pemetik teh, tetapi mereka kaum tua muda yang tengah melupakan Tuhan, mereka yang berlaku laksana hewan, bukan hanya malapetaka yang mereka ciptakan, tetapi juga ketidak senonohan dan kemungkaran. mereka angkuh dengan kebebasan.

Satu Tanggapan ke “sex in my village”

  1. hubunggi aku asih.085641060884

Tinggalkan Balasan