Arsip untuk Agustus, 2009

sex in my village

Posted in Curat-coret cocoretan on Agustus 10, 2009 by pihatur

BUnga mawar merah ranum diantara melati yang putih mewangi. embun pagi belum sempurna turun,sebagian masih bergelantungan diantara daun pandan dan rerumputan. sekali lagi aku buka jendela belakang yang menghadap perkebunan teh. nampak para ibu pemetik teh tengah menarikan jemarinya memetik tangkai demi tangkai pucuk teh yang terlihat anggun menghijau. tak terdengar suara burung, hanya para buruh berteriak bersahutan. mentari kian menanjak tinggi, embun pun tak lagi bergelantungan, semua lenyap di telan bumi merambat melewati akar hingga berwujud tangkai, daun, bunga dan buah. setiap hari mungkin begitu, hanya saja kita kehilangan waktu untuk memperhatikan mereka. siang hari ini aku harus menelusuri pojok demi pojok perkebunan ini, perkebunan yang luas membentang, tak mungkin rasanya aku harus menggunakan kedua kaki ini untuk mengitarinya. terpaksa merogoh kocek untuk sewa ojek. lalu lalang orang2 tak sedikit pun ku perhatikan, pandangan ini larut dalam hijau nya perkebunan, hingga tak terasa senja mulai menyapa, lembayung pun kian merona. aku harus mengakhiri perjalanan ini, sejenak ku hela nafas tak rela rasanya bila kutinggalkan kehijauan meski aku harus berselimut gelap nya malam. kadang aku berpikir aneh, mungkinkah kehijauan ini akan berubah malapetaka kehidupan?? benar benar aneh, tapi itu lah kenyataan. ketika malam tiba perkebunan ini tak lagi di singgahi si pemetik teh, tetapi mereka kaum tua muda yang tengah melupakan Tuhan, mereka yang berlaku laksana hewan, bukan hanya malapetaka yang mereka ciptakan, tetapi juga ketidak senonohan dan kemungkaran. mereka angkuh dengan kebebasan.

Sandiwara kah ini???

Posted in Curat-coret cocoretan on Agustus 10, 2009 by pihatur

Aku tidak sedang bersandiwara, aku sedang kritis dan tak berarah, aku perlu pegangan dan pijakan, aku perlu seseorang yang bisa saling menguatkan, kalau lah kau tahu betapa remuk redan nya jiwa ini tentu kau tak kan rela meninggalkan ku dalam kesendirian. tahu kah kau betapa ku tak ingin semua ini terjadi, aku hanya ingin kau, bukan yang lain. hanya itu yang ku ingin, bukan yang lain. malam ini dan entah sampai malam kapan aku harus rela merenungi ini semua, akan kah kau kembalikan kebahagiaan itu?? akan kah kau rengkuh diri ini kembali, kalau lah kau tahu bahwa aku sedang di ujung jurang yang terjal, akan kah kau menarik ku agar aku tidak terjatuh ke dalam nya. aku mulai termenung lagi, aku mulai sendiri lagi, aku mulai berhalusinasi seperti dulu, seperti hal yang ku takuti sebelumnya, aku tak bisa melawan, aku tak bisa berteriak, aku tak bisa berlari. kapan sandiwara ini akan berakhir??? aku lelah, aku cape, aku tak mungkin dapat melanjutkan sandiwara ini hingga episode terakhir, kecuali kau berada di sini, di dekat ku, di halaman mata hati ku, dah rapat tak berjarak dengan nurani ku. bantulah aku wahai engkau yang jauh disana,,,, aku lagi dalam kegundahan yang luar biasa, bila engkau tak lagi dapat berjalan, ambilah kedua kaki ku agar kau bisa sampai di hati ku, andai kau tak bisa melihat, ambilah kedua mata ku, agar kau tahu betapa aku merindukan mu, andai kan kau sudah tak bisa mendengar, ambilah kedua telinga ku agar kau bisa mendengar rintihan dan teriakkan ku. namun ternyata kau mungkin sudah tak lagi bisa apa-apa, hingga aku terkulai tak berdaya mendapati kau sudah tak bernyawa, Mungkin kah ini akhir dari sandiwara????

Berhentilah Sejenak…….!!!!!!

Posted in Curat-coret cocoretan on Agustus 3, 2009 by pihatur

Mungkin kurang nyaman rasanya bila anda diajak menukik dari kesibukan super tinggi di atmosfer kebendaan, untuk hinggap sejenak di dahan perenungan.
Tapi biarlah rasa kurang nyaman itu kemudian sirna takkala ketenangan dan kejernihan datang menghampiri jiwa.

Berhentilah Sejenak.
Anda sedang dalam perjalanan yang perlu berhenti sejenak untuk beristirahat seraya mencocokan arah kompas, mengukur peta dan memeriksa bekal perjalanan.

Berhentilah Sejenak.
Untuk mengenali energi diri, meredakan kegelisahan, mengatasi kepanikan, menjaga harapan, memperkuat kemauan, menimbang umur sampai menemukan kembali martabat kemanusiaan.

Berhentilah Sejenak.
seperti yang disarankan seorang intelektual muda di zaman Rasulullah SAW, Muaz bin jabal ra, “Ijlis bina Mugni saah” (Duduklah bersama kami, kita perbaharui iman sejenak, HR.Bukhari)

Berhentilah Sejenak.
Marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai yang terakhir (baca: jangan mengharap mendapat ramadhan berikutnya), kita ambil makna dan hakekatnya, agar ia dapat menjadi ma’alim, rambu-rambu jalan yang memungkinkan musafir merasa yakin, aman dan lancar diperjalanan.