Arsip untuk Januari, 2008

wening asih

Posted in Tak Berkategori, sunda pisan on Januari 24, 2008 by pihatur

 

 

Bermata kah mereka?

 

 Suatu malam sepulang sholat isya dari masjid tak jauh dari rumah, saya berjalan agak tergesa, tangan kanan memegang payung yang oleng kanan-kiri diterpa hujan angin yang cukup deras, sementara tangan kiri memegang lipatan sarung yang diangkat hingga lutut.tiba di depan pintu pagar langkah ini terhenti melihat dua sosok anak muda berusia sekitar 13-14 tahun tengah mendorong gerobak yang berisi tumpukan barang bekas, sesekali ia hampiri tempat sampah entah apa yang mereka cari. Basah kuyup tak dihiraukannya mereka terus berjalan menyusuri tiap sudut komplek dan menghampiri setiap tempat sampah, miris rasanya hati ini, di saat semua orang berlindung di kehengatan rumah, kamar tidur,atau di depan televisi, ternyata masih ada orang lain yang terpaksa menerobos dinginnya malam demi menyambung hidup di hari esok, itu adalah salah satu atau sebagian kecil ketimpangan yang hadir di negeri ini, berderet media membritakan berbagai kasus kemiskinan, gizi buruk,bunuh diri dengan alasan kekurangan hingga yang mati lemas kelaparan terus mendera bangsa yang konon katanya negri agraris maritim yang subur dengan gunung dan kaya dengan alam.siapakah yang bertanggung jawab atas semua ini ? cukupkah kita hanya dengan memejamkan mata seraya memanjatkan kunut najilah untuk mereka, atau segera memalingkan muka karena itu bukan tanggung jawab kita.atau kita harus kembali menyalahkan para pejabat tinggi Negara yang rakus akan kekuasaan, yang akan memberi kepedulian ketika pemilihan di kampanyeukan, para petinggi negeri yang haus akan kedudukan, rakus akan mata uang, atau mahluk aneh yang hidup di istana dengan segala kemegahannya  tetapi berparuh elang,cakar harimau,gigi srigala,dan pakaian ular berbisa yang senantiasa membahayakan. Mereka yang tertidur nyenyak sementara masih banyak rakyat yang terlantar di jalanan, bertumpuk di pengungsian atau berdesakkan di bawah jembatan, mereka yang duduk manis di kursi kepemimpinan tetapi lupa akan rakyat yang menjerit kelaparan dan terisak karena ketidak adilan.bermata kah mereka? Bertelinga kah mereka?

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku terjebak dalam angan………..

 

Inilah aku yang selalu mengadu akan kehidupan,menyesali berlalunya kemarin,mengutuki cepatnya waktu di hari ini,dan menunggu dengan cemas akan datangnya hari esok.entah apa yang di pikirkan, sudah lelah rasanya diri ini terjebak dalam penjara lamuan. Kalaulah,seandainya, suatu saat nanti dan sederet kata pengandaian selalu bergemuruh dalam dada meski dalam kesunyian malam, menjadi teman dalam kesendirian. Tempat mana yang ku singgahi di situlah ku mulai perjalanan dalam angan dan lamunan, entah itu bercita-cita atau hanya bermimpi, yang pasti ada sebongkah harapan terpendan dalam jiwa yang suatu saat akan menjadi kenyataan meski tak jarang apa yang dipikirkan itu jauh dari kenyataan. Terkadang aku tersadar bahwa baru saja aku tenggelam dalam telaga yang tak mungkin dapat dikeringkan hanya dengan melubangi seujung rambut. Benar…. Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa melihat ke bawah agar selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki. Tetapi terkadang perlu juga melihat yang diatas agar termotivasi untuk berjuang dan menyempurnakan usaha, bukan merasa lebih kecil dan rendah diri.

Dari hari ke hari perjalanan lamunan selalu memenjarakan jiwa yang rapuh penuh Tanya,terbelenggu tirai baja yang membentengi antara harapan dan kenyataan.ingin rasanya melepaskan diri laksana burung yang keluar dari sangkar lalu terbang bebas mengepakkan sayapnya seraya menghirup udara dengan bebasnya.Gunung dapat ia daki,pohon-pohon dapat ia singgahi begitupun bentangan alam yang indah dapat leluasa ia nikmati malam ataupun siang meski terkadang harus cerdik berlari menyelamatkan diri dari incaran sang pemburu yang tak berhati.atau seperti seekor kepompong yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu yang cantik berterbangan kian kemari menambah keindahan taman yang merekah dengan bunga-bunga. Itulah yang terbersit dalam setiap lamunanku, lamunan yang selalu memenjarakan,lamunan yang tak menghasilkan segunung atau secuilpun dalam kenyataan.padahal ada keyakinan yang bergemuruh di kesunyian,bercahaya di kegelapan serta penyemangat ketika putus asa.mungkin inilaH kenyataan, manusia selalu mengharapkan kesempurnaan dan kebahagiaan karena keduanya merupakan pilihan hidup, sementara sebaliknya, manusia selalu bermuram durja ketika ketidaksempurnaan menghampiri, kesedihan datang silih berganti karena itu bukan pilihan hidup. Bahkan menjadi horror yang mengerikan ketika musibah merampas ketenangan, kesedihan menggantikan kebahagiaan dan kekurangan menukar kecukupan.

Lamuan itu membawa ku pada keadaan yang kaya raya, sukses dalam berbagai hal serta berhasil dalam apapun yang di inginkan,ingat itu hanya lamuan……, lamuan yang tak pernah merubah kenyataan, yang tak menghasilkan apa-apa.kenyataanya aku tetaplah aku tak pernah menjadi siapapun karena sebuah lamunan/. Yang pasti mau tak mau aku harus menerima kenyataan pada keadaan ku sekarang, seraya berupaya mengukir masa depan dengan usaha dan perjuangan.  Lamuanan hanya menyita waktu yang merugikan…….

 

Diteuteup ti hareup sieup, di sawang ti tukang lenjang. asa moal incah balilahan ka tanah sunda teh,duh asa lebar temenan mun teu di jaga di riksa.bisi aya siku siwulu-wulu galagah kancana maung ngamuk gajah meta kuring mah moal mangmang moal bingbang moal rek mundur najan salengkah,rek tuluy maju najan nyawa jadi tarohannana, tapi lain eta nu kudu di pilaku kiwari mah, rek ngabela lemah cai teu kudu korban jiwa tengteng sanjata, urang mumule we ku basa jeung budaya. tong agul ku kuda beureum make ngaku-ngaku kabudayaan barat teh nu urang, lain eta mah nu batur, bari na ge teu sieup mun urang sunda jiga barat, tong eleh ku batur teu weleh nalungtik kaayaan atawa ngeunaan budaya urang, yu urang sasarengan…………..

 

NAON PIJUDULEUN NANA?

ASIH TEH MATRI NA ATI

ASIH TEH MERENAH NA RASA

TEU WELEH AWOR NGAGURUH

LIR ANGIN DI TEPIS WIRING

ASIH TEH HAREPAN NU MANJANG

NU NGALANGKANG NA IMPIAN

NU NGOLEBAT NA LAMUNAN

NU MARENGAN MENGSA NYORANGAN

ASIH TEH NU MAYUNGAN

ASIH TEH NU NGITEUKAN

HAMO INGKAH BALILAHAN

MUN ASIH GEUS MAGEUHAN

 

PEUTING IEU

 

DUH PEUTING NU SEPI JEMPLING

PANG NEPIKEUN HAREWOS KURING

TINA ATI ANU WENING

DUH BENTANG NU BARANANG

TONG WAKA ANGGANG NGAJAUHAN

IEU KURING NGAN SORANGAN

DI BATURAN KU LAMUNAN

DUH BULAN NU NGAHIBARAN

MUN ANJEUN BISA NYAANGAN

CAANGAN HATE KURING

NU MONGKLENG LIR KAANGKEUBAN

 

ANJEUN

 

 

ANJEUN NU JADI HAREPAN

ANJEUN NU NYIMPEN RASA KAHEMAN

ANJEUN NU JADI PIKIRAN

ANJEUN NU DATANG NA PANGIMPIAN

ANJEUN………NU TEU BISA DI INGKARAN

ANJEUN NU PAHEUT DI PENGKOLAN

ANJEUN NU BISA NGUBARAN

ANJEUN NU DI DAGOAN

ANJEUN NU NGALEUNGITKEUN KASEDIHAN

ANJEUN NU NGAJADIKEUN KABAGJAAN

ANJEUN NU TEU WELEH NGALANGKANGAN

ANJEUN NU TEU WELEH NA SAWANGAN

KAMANA ANJEUN KAMANA

ABDI KEUEUNG NGAN SORANGAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wah nampaknya kalimat “aya-aya wae” makin akrab dengan kita neh, kebetulan ada pengalaman dengan kalimat aya-aya wae.o ya tadinya mau pake bahasa sunda tapi ada yang protes “nggak ngartos”, aya-aya wae orang bandung nggak ngartoz bahasa sunda. sok araraneh masa ari bahasa jepang bisa kaya teh erry tuh.tapi teu nanaon lah ladang amal keur urang sunda ngarah langkung soson-soson mihara bahasana..

ceritanya begini; suatu senja di bulan januari awal 2008, saya dapet sms begini “ass. kang hari ini saya ada acara pengajian remaja ba’da maghrib bertempat di Masjid Al-Hadi Jl.H.Alphi RT05 Rw.01 ..marjono” kebetulan saya lagi nggak ada acara, yah serentak saya bergegas untuk memenuhi undangannya,wah wah buru-buru nih waktunya udah ampir pukul 17.30, hiruk pikuk perjalanan sore itu sungguh melelahkan mata dan terus menguji kesabaran seperti biasa perjalanan antara Holis,cibuntu dan caringin lagi macet-macetnya begitupun jalur-jalur lain, meski rada kecewa alhamdulillah Nyampe juga.turun dari angkot tak lagi tengok kiri kanan langsung menuju alamat yang di tuju, ketika sudah sampai di sebuah gang saya bertanya kepada seorang ibu, “Bu, ini betul Rt.05?, iya de… jawabnya, emang mau ke siapa?, si ibu balik tanya. kalo masjid Alhadi sebelah mana ya bu? nggak tau, coba tanya pak Rt aja!katanya. di sebelah ada masjid tapi gak tau masjid apa, katanya lagi. karena udah sore pikir saya lebih baik Sholat aja dulu di masjid ini. dan saya pun segera masuk masjid itu dan ternyata itulah masjid Al-Hadi yang si Ibu nggak tau namanya.,, ingin sekali saya balik lagi ke Ibu yang tadi dan memberi tahu kalo ini adalah Masjid AL-HADI. aya-aya wae…… (garing Nya)

wah

Posted in sunda pisan on Januari 15, 2008 by pihatur

uakakak jadi maluu ni ama mas chaliim,tapi makasih pisan udah ngajak jalan-jalan mudah2an bisa mengambil pelajaran dari setiap jengkal perjalanan kita.o ya mohon maaf tulisan ku mengenai perjalanan nya belum selesai jadi belum bisa di terbitkan. sekalio lagi makasih atas tukeran tempat duduknya,atas perkenalan dengan keluarganya, atas riang gembira di pantainya, atas wah luar biasa menikmati perjalanannya yang tak sekedip pun ku lewatkan, atas boncengan sepedanya yang bikin pantat ku sakit, atas es dawetnya,atas semangkuk mie ayamnya, dan terima kasih pula atas jasanya telah menyelamatkan daku dari gigitan ular……iiih aku kaget bener., cuman ada yang kurang?!aku belum bener-bener di ajarin bahasa jawa nya. biar entar kalo aku ke sana lagi enggak bengong mulu kalo kata orang sunda mah molohok ngembang kadu….oya satu lagi, kita harus belajar Adzan ya…..he he he

renungan

Posted in Tak Berkategori on Januari 14, 2008 by pihatur

curat-coret

Pagiku datang tak seindah bunga mekar

Mentari kembaki menyapa pagi,perlahan ku hela nafas. berat rasannya ku arungi hari ini,entah lah…di saat orang-orang berlomba mengawali hari dengan berbagai aktifitas aku tak tahu apa yang akan ku persembahkan untuk hari ini. melepas penat kuraih remot kontrol, k pijit tombol power dan ku saksikan berita pagi yang tak jauh dari Narkoba, banjir, longsor, tawuran, bentrokan, penjualan anak, kemacetan, unjuk rasa, hingga penyelewengan agama, terlebih korupsi sang aktor pemerintah. semuanya menjadi santapan hangat pemirsa di pagi, siang, sore dan malam hari. siapa yang salah dengan semua ini? apakah saya yang hanya bisa heh dan berkomentar tanpa memberikan solusi? atau kita dan kami semua yang sadar atau tidak telah melepas nilai-nilai yang semestinya ada dalam diri kita, dimana nilai itu? kita msih bisa tertawa riang dan berleha2 di saat masih banyak saudara kita yang tertindas, kita belum mau bersyukur dengan keadaan kita di saat seorang bayi terlahir tanpa batok kepala, jantung di luar, tak beranus, usus terurai hingga kembar siam yang memilukan, belum lagi para pejabat yang masih bisa lelap dalam mimpi berselimut kemegahan sementara masih banyak rakyat yang tergolek di trotoar, di bawah jembatan, lorong-lorong kota, atau berdesakan di tempat pengungsian, dimana nilai kemanusiaan itu, disaat masih banyak rakyat yang menangis pilu karena kelaparan, bersedih karena di gusur tanpa solusi, atau masih mengantri dengan BBM dan bahan makanan. dimana nilai itu, di saat hukum laksana pisau tumul ke atas tajam ke bawah.dimana nilai itu di saat media, majalah, VCD dan DVD porno masih di jual bebas di emper2 dengan sasaran empuk anak2 dan remaja, padahal di negara liberal sekalipun media yang berbau pornograpi hanya di jual di tempat2 tertentu dengan konsumen 18 tahun keatas itu pun harus menunjukan SIM atau KTP, kenapa indonesia seperti INI? mari kita renungkan….

Posted in sunda pisan on Januari 14, 2008 by pihatur

nu miskin,,,..kamanakeun,….kumahakeun,….???

kangjeng prabu nuju andekak sila dina korsi gading gilang kancana, bae sila ge da harita mah keur teu ngayakeun sinewaka.para senopati kabeh keur ngalaksanakeun tugasna sewang-sewangan. nu aya ngan ukur mang lengser.”lengser….! lengser…! kadieu eum…!dawuh timbalan,kaulanun….”lengser cedok nyembah,diuk sila mendeko hareupeun kanjeng prabu.”sugan aya laporan anyar nun keur lumaku di ambarahayat?”Aya kaulanun”,soal naon?”..”perkawis anu miskin beuki seueur nambihan,,kulan.” ”bongan na atuh” bongan naon kaulanun? heueuh bobgan na rahayat teh beuki nambahan. lain kaula teh geus nitah KB?tah kitu balukarna loba teuing budak teh,gajih saeutik, anak pamajikan teu kaparaban, ngagantung maneh we balukarna!yaktos kaulanaun, namung…” “namung naon?”sanes eta rupina waleran anu di pikahoyong ku ambarahayat mah?”naha kudu nyarita naon kaula?kumaha carana malar nu miskin jumlahna ngirangan kulan” atuh bacacarkeun we sawareh, transmigrasikeun,sawareh iangkeun jaradi TKW beres pan?”teu garaduh kaahlian …kaulanun”. sanes tukang ngabukbak leuweung da puguh hirupna di kota,mun di damel di manca nagara paling jadi babu ayawa tukang ripuh asa teu merean simkuring mah watirr…ari ras ka diri sorangan.komo seuseueur namah kitu we jasdi andar-andar(galanangan)neba sareng ngaleuya minuhan parapatan…!”eureunkeun etah.teu meunang jadi andar-andar,teu meunang jadi pangamen,teu meunang jadi tukang dagang asong, supaya kapokeun masarakat umum ulah ngaladenan maranehna,tibanan hukuman beurat kanu coba-coba mere maweh ka andar-andar nya!!’”supados naon kaulanun?”"har….lain ceuk andika tadi nu miskin jumlahna kudu di kurangan? ari nyaho moal pada mere mah tangtu andar-andar lalunta ngajauhan kota, tuh pan kota jadi lalening?jadi berseka moal sareukseuk.kitu saur kangjeng prabu…tapi teu di haminan ku lengser….tugenah meureun jawanban prabu teh teu surup jeung harepan nana.

Pendidikan

Posted in Tak Berkategori on Januari 5, 2008 by pihatur

INOVASI PEMBELAJARAN DAN
PENYEMAIAN NILAI LUHUR HAKIKI

Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru tidak perlu lagi menjadi “pengkhutbah” yang terus berceramah dan menjejalkan bejibun teori kepada siswa didik. Sudah bukan zamannya lagi anak diperlakukan bagai “keranjang sampah” yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu. Peserta didik perlu diperlakukan secara utuh dan holistik sebagai manusia-manusia pembelajar yang akan menyerap pengalaman sebanyak-banyaknya melalui proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Oleh karena itu, kelas perlu didesain sebagai “masyarakat mini” yang mampu memberikan gambaran bagaimana sang murid berinteraksi dengan sesamanya. Dengan kata lain, kelas harus mampu menjadi “magnet” yang mampu menyedot minat dan perhatian siswa didik untuk terus belajar, bukan seperti penjara yang mengkrangkeng kebebasan mereka untuk berpikir, berbicara, berpendapat, mengambil inisiatif, atau berinteraksi.
Tak ada seorang pun yang bisa membantah bahwa guru memiliki peran yang amat vital dalam proses pembelajaran di kelas. Gurulah yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengevaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan melakukan tindak lanjut. Dalam konteks demikian, gurulah yang akan menjadi “aktor” penentu keberhasilan siswa didik dalam mengadopsi dan menumbuhkembangkan nilai-nilai kehidupan hakiki.
Ketika sang guru masuk kelas dan menutup pintu, di situlah sang guru akan menjadi pusat perhatian berpasang-pasang mata siswa didiknya. Mulai model potongan rambut, busana yang dikenakan, hingga sepatu yang dipakai akan ditelanjangi habis oleh murid-muridnya. Belum lagi bagaimana gaya bicara sang guru, caranya berjalan, atau kedisiplinannya dalam mengajar. Di mata sang murid, guru seolah-olah diposisikan sebagai pribadi perfect yang nihil cacat dan cela. Itu juga makna yang tersirat dalam akronim “digugu lan ditiru” (dipercaya dan diteladani). Tidak heran kalau banyak kalangan yang berpendapat bahwa maraknya tindakan premanisme, korupsi, manipulasi, penyalahgunaan jabatan, pengingkaran makna sumpah pejabat, jual-beli ijazah, dan semacamnya, gurulah yang pertama kali dituding sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap maraknya berbagai ulah anomali sosial semacam itu.
Harus diakui tugas guru memang berat. Mereka tidak hanya dituntut untuk melakukan aksi “lahiriah” dalam bentuk kegiatan mengajar, tetapi juga harus melakukan aksi “batiniah”, yakni mendidik; mewariskan, mengabadikan, dan menyemaikan nilai-nilai luhur hakiki kepada siswa didik. Ini jelas tugas dan amanat yang amat berat ketika nilai-nilai yang berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat sudah demikian jauh merasuk dalam dimensi peradaban yang chaos dan kacau.
Ketika guru menyatakan bahwa korupsi itu haram dan melawan hukum, tetapi apa yang dilihat oleh anak-anak dalam praktik kehidupan sehari-hari? Ya, mereka bisa dengan mudah menyaksikan dengan mata telanjang betapa nikmatnya hidup menjadi koruptor. Hukum menjadi tak berdaya untuk menjerat mereka. Bahkan, mereka bisa bebas melenggang pamer kekayaan di tengah-tengah jutaan rakyat yang menderita dan terlunta-lunta akibat kemiskinan yang menggorok lehernya. Ironisnya, tidak sedikit koruptor yang justru merasa bangga ketika mereka bisa mempermainkan hukum. Jika keadaan mendesak, mereka bisa pasang jurus “sakit pura-pura”. Ketika guru mengajak anak-anak untuk melestarikan dan mencintai lingkungan hidup, apa yang mereka saksikan? Ya, para pembalak dan preman-preman hutan ternyata juga setali tiga uang. Hukum seolah-olah telah lumpuh dan tak sanggup menjamah mereka. Jelas-jelas sebuah kondisi yang amat bertentangan secara diametral. Nilai-nilai luhur hakiki yang disemaikan di sekolah benar-benar harus berhadapan dengan berbagai “penyakit sosial” yang telah bersimaharajalela di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Lantas, bagaimana? Haruskah guru ikut-ikutan bersikap permisif dan membiarkan anak-anak larut dalam imaji amoral dan anomali sosial seperti yang mereka saksikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat? Haruskah gambaran tentang citra koruptor dan pembalak hutan yang hidup bebas dan lolos dari jeratan hukum itu kita biarkan terus berkembang dalam imajinasi anak-anak bangsa negeri ini? Gampangnya kata, haruskah anak-anak kita biarkan bermimpi dan bercita-cita menjadi koruptor dan pembalak hutan?
Tunggu dulu! Kalau proses pembelajaran berlangsung monoton dan seadanya; guru cenderung bergaya indoktrinatif dan dogmatis seperti orang berkhotbah, upaya penyemaian nilai-nilai luhur hakiki saya kira akan sulit berlangsung dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Apalagi, kalau anak-anak hanya diperlakukan sebagai objek yang pasif, tidak diajak untuk berdialog dan berinteraksi. Maka, kegagalan penyemaian nilai-nilai luhur kepada siswa didik hanya tinggal menunggu waktu. Dalam konteks demikian, guru perlu mengambil langkah dan inisiatif untuk mendesain proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Guru memiliki kebebasan untuk melakukannya di kelas. KTSP sangat leluasa memberikan kesempatan kepada guru untuk menerapkan berbagai gaya dan kreativitasnya dalam kegiatan pembelajaran.
Melalui kegiatan pembelajaran yang inovatif, atmosfer kelas tidak terpasung dalam suasana yang kaku dan monoton. Para siswa didik perlu lebih banyak diajak untuk berdiskusi, berinteraksi, dan berdialog sehingga mereka mampu mengkonstruksi konsep dan kaidah-kaidah keilmuan sendiri, bukan dengan cara dicekoki atau diceramahi. Para murid juga perlu dibiasakan untuk berbeda pendapat sehingga mereka menjadi sosok yang cerdas dan kritis. Tentu saja, secara demokratis, tanpa melupakan kaidah-kaidah keilmuan, sang guru perlu memberikan penguatan-penguatan sehingga tidak terjadi salah konsep yang akan berbenturan dengan nilai-nilai kebenaran itu sendiri.
Melalui suasana pembelajaran yang kondusif dengan memberikan kesempatan kepada siswa didik untuk bebas berpendapat dan bercurah pikir, guru akan lebih mudah dalam menyemaikan nilai-nilai luhur hakiki. Dengan cara demikian, tugas guru sebagai pengajar dan sekaligus sebagai pendidik diharapkan bisa terimplementasikan dengan baik. Meskipun korupsi, manipulasi, dan berbagai jenis “penyakit sosial” menyebar dan meruyak di tengah-tengah kehidupan masyarakat, melalui proses rekonstruksi konsep yang dibangunnya, anak-anak bangsa negeri ini mudah-mudahan memiliki benteng moral yang tangguh dalam gendang nuraninya sehingga pantang untuk melakukan tindakan culas yang merugikan bangsa dan negara.